MAKALAH
KEPERAWATAN ANAK
PEMERIKSAAN NEUROLOGI

Disusun Oleh:
Rizka Hidayatul p.
(7114016)
PROGRAM D3
KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU
KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN
TINGGI DARUL ‘ULUM
JOMBANG
2016
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt, karena atas berkat dan limpahan
rahmatnyalah makalah tentang pemeriksaan neurologi pada anak dapat
terselesaikan dengan baik. Meskipun masih banyak kekurangan baik dari isi,
sistematika, maupun cara penyajiannya.
Makalah
tentang pemeriksaan neurologi pada anak ini adalah sebagai pemenuhan tugas mata
kuliah keperawatan anak semester 4 Program Studi Ilmu Keperawatan di UNIPDU.
Ucapan
terimakasih kami ucapkan kepada Pujiani, S. Kep.Ns, M.Kep. selaku dosen
pengampu Mata Kuliah keperawatan anak
ini. Serta bagi semua pihak yang turut mendukung dalam pembuatan makalah
ini.
Kami
berharap semoga makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam mempelajari materi
tentang pemeriksaan neurologi pada anak. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca
dan peneliti lain yang akan menulis tentang tema yang sama, khususnya bagi kami
sendiri sebagai penyusun.
Jombang, 11 maret 2016
Penyusun
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
PADA BAYI DAN ANAK
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS PADA BAYI DAN ANAK
Pemeriksaan neurologis pada bayi merupakan hal tidak gampang untuk dilakukan,
hal ini disebabkan karena bayi normal selalu bergerak aktif. Untuk dapat
menilai apakah pemeriksaan itu normal atau abnormal, maka penting untuk
mengetahui terlebih dahulu bagaimana proses
perkembangan anak normal.
Pada makalah ini akan dibicarakan mengenai beberapa cara
pemeriksaan neurologis yang penting dalam praktek sehari-hari untuk mendeteksi
secara dini kemungkinan-kemungkinan adanya penyimpangan tumbuh dan kembang bayi
dan anak.
Adanya variasi-variasi individual pada pemeriksaan neurologis bayi
ini mungkin terjadi dan harus selalu dipertimbangkan. Sebelum melakukan
pemeriksaan neurologis pada bayi, perlu diketahui adanya beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi pemeriksaan, yaitu:
1.
Waktu
Pemeriksaan.
Waktu yang paling tepat untuk melakukan pemeriksaan adalah 2-3 jam
setelah bayi selesai minum. Bayi dan anak yang diperiksa dalam keadaan
mengantuk atau letih akan memberikan reaksi berlainan bila dibandingkan dengan
mereka yang sudah beristirahat cukup.
2.
Suhu Ruang
Periksa.
Suhu ruangan yang baik pada saat pemeriksaan adalah berkisar antara
27-290C.
Seperti halnya juga pada pemeriksaan-pemeriksaan klinis lainnya,
sebaiknya pemeriksaan dimulai dengan inspeksi setelah itu diikuti dengan
menilai fungsi penglihatan, fungsi pendengaran, fungsi motorik dan lain-lain.
INSPEKSI
Bayi atau bayi baru lahir secara normal akan berbaring dengan
posisi lengan dan tungkai dalam keadaan fleksi, sedangkan tangannya
menggenggam. Posisi bayi baru lahir tanpa kelainan neurologis bila diletakkan
pada meja periksa dalam posisi telungkup (pronasi/prone position) maka
kepalanya masih akan menempel pada meja, kedua lengan dan tungkainya dalam
keadaan fleksi dan bokong ke atas.
Dengan semakin bertambahnya usia, maka kepalanya akan diangkat. Posisi fleksi
pada bayi normal akan semakin tampak kurang jelas dengan semakin bertambahnya
usia. Beberapa posisi abnormal yang dapat dijumpai pada bayi atau bayi baru
lahir antara lain:
a.
FROG POSTURE
Yaitu bilamana kedua lengannya terbaring lemas di samping tubuhnya,
kedua tangan terbuka disertai abduksi dan eksternal rotasi sendi panggul. Besar
kemungkinan bayi tersebut adalah “Floppy Infant”.
b.
HEMIPLEGI
Yaitu bilamana hanya ekstremitas satu sisi yang fleksi, sedangkan
sisi lainnya esktensi lemah. Bila hanya satu ekstremitas atas yang ekstensi
lemah, kemungkinan suatu “Erb’s Paralyse”.
c.
OPISTHOTONUS
Bilamana dijumpai opisthotonus yang disertai dengan ekstensi
spastik pada ke-empat ekstremitas kita curigai adanya “Cerebral Palsy”.
d.
HIPOTONI
Yaitu apabila bayi terbaring lurus tertelungkup dengan posisi kedua
lengan dan tungkainya diletakkan lurus di atas meja. Biasanya bayi dengan
posisi seperti ini memiliki kelainan pada SSP.
PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS
Ada 12 buah saraf kranialis yang harus dievaluasi pada bayi dan
anak. Dengan melakukan pemeriksaan lengkap pada ke 12 buah saraf kranialis
tersebut kita dapat mengetahui ada tidaknya gangguan pada otak.
a.
PTOSIS
Adanya ptosis baik unilateral maupun bilateral menunjukkan
kemungkinan adanya gangguan di beberapa sistem saraf, antara lain:
·
Lesi pada
saraf impatik m. elevator palpebra ( Horner’s
Synd rome),
·
Lesi pada N.III
(Okulomotorius)
·
Congenital
Myasthenia Gravis,
·
Myotonic
Dystrophy
·
Congenital
Muscular Dystrophy
·
Centronuclear
Myopathy
b.
Gerakan Bola
Mata
Observasi pada pergerakan bola mata dapat menunjukkan adanya
gangguan pada otot-otot ekstraokuler yang diinervasi oleh N.III, N.IV
(Trokhlearis) dan N.VI (Abdusens) Pada anak, gerakan bola mata dapat dinilai
dengan menyuruh anak mengikuti gerakan jari ke berbagai arah. Kegagalan gerakan
bola mata kearah lateral disebabkan gangguan saraf otak VI yang mensarafi otot
rectus lateralis. Sedangkan kegagalan gerakan bola mata ke medial adalah
kelumpuhan pada saraf otak III yang mensarafi otot rectus medialis. Gangguan
pada semua arah gerakan menandakan adanya gangguan pada nukleus batang otak.
Pemeriksaan funduskopi dapat menilai adanya korioretinitis, perdarahan atau
edema papil. Apabila dicurigai adanya gangguan visus, dianjurkan konsultasi
dengan dokter mata.2,5
c.
Otot Wajah
Pada saat bayi atau anak menangis kita dapat melihat apakah
kontraksi otot-otot wajahnya simetris atau tidak. Adanya lesi pada N.VII
(Fasialis) menyebabkan wajah bayi atau anak tampak tidak simetri pada waktu
menangis.
d.
Mengisap
Kekuatan mengisap pada bayi dan anak, selain dipengaruhi otot-otot
wajah yang diinervasi N.VII juga dipengaruhi oleh N.V (Trigeminus). Lesi pada
kedua saraf kranialis tersebut menyebabkan bayi atau anak mengalami kesulitan
mengisap ASI atau PASI.
e.
Penciuman
Merupakan fungsi dari N.I (Olfaktorius). Pemeriksaan penciuman pada
bayi bukanlah hal yang mudah, tetapi pada anak yg lebih besar kita bisa meminta
mereka untuk membau dengan posisi mata tertutup. Sebelum melakukan tes,
pastikan terlebih dahulu tidak didapatkan adanya gangguan atau sumbatan pada lubang
hidung. Pada bayi kita bisa menempelkan gelas obyek atau membran dan melihat
adanya pengembunan akibat udara yang dikeluarkan. Anosmia adalah ketidakmampuan
untuk membau aroma. Anosmia unilateral biasanya berkaitan dengan kerusakan pada
SSP. Kerusakan yang terjadi bisa pada N.I itu sendiri, talamus atau lobus
frontalis, atau pada struktur struktur yang menghubungkan organ-organ tersebut.
Penyebab kelainan ini adalah trauma kepala, aneurisma, perdarahan intraserebral
atau tumor.
f.
Refleks Cahaya
Refleks cahaya yang positif menunjukkan adanya respon dari N.II dan
N.III.
g.
N.IX dan N.X
Refleks muntah, pergerakan pallatum dan faring, kemampuan menelan
dan kekuatan tangis bayi dipengaruhi oleh inervasi N.IX (Glosofaringius) dan
N.X (Vagus).
h.
Posisi Lidah
Pada lidah perhatikan ada tidaknya atropi atau asikulasi. Lidah diperiksa harus dalam
keadaan istirahat di dasar mulut. Apabila didapatkan kontraksi yang cepat dan
fasikulasi, harus dicurigai adanya gangguan pada nukleus N.XII (Hipoglosus)
atau kranialis N.XII.
FUNGSI MOTORIK
Evaluasi sistem motor pada anak usia sekolah dapat dilakukan secara
formal dan biasanya cukup pada otot proksimal dan distal anggota gerak atas dan
bawah. Uji kekuatan otot hanya dapat dilakukan pada anak yang sudah dapat
mengerjakan instruksi pemeriksa dan kooperatif. Pada bayi dan anak yang tidak
kooperatif hanya dapat dinilai kesan keseluruhan saja.
a.
Respon Traksi
Pada seorang bayi atau anak yang normal, sebelum dapat duduk maka
dia terlebih dahulu harus mempunyai kontrol terhadap fungsi otot-otot lehernya.
Sejak lahir sampai dengan usia 2 bulan, kepala anak akan tertinggal
bilamana ita mengangkat anak tersebut
pada kedua tangannya dari posisi tidur ke posisi duduk. Keadaan ini disebut
dengan “Head Leg”. Salah satu tes untuk mengetahui kontrol terhadap
otot-otot leher dan kepala ini adalah Respon Traksi.
Caranya:Bayi ditidurkan dalam posisi supinasi simetris, kemudian
pemeriksa memegang kedua tangan bayi pada pergelangan tangan, secara
perlahan-lahan anak ditarik sampai pada posisi duduk. Kemudian dievaluasi
kemampuan bayi dalam mengontrol posisi leher dan kepalanya. Apabila kepala
masih tertinggal di belakang pada saat bayi posisi duduk maka head leg-nya positif (masih ada), tapi apabila
bayi mampu mengangkat kepalanya pada saat posisi duduk maka head leg-nya
negatif (menghilang). Head leg harus sudah menghilang setelah bayi
berusia 3 bulan. Apabila setelah usia 3 bulan masih didapatkan head leg yang
positif, maka harus dicurigai adanya kemungkinan hipotoni, kelainan SSP atau
prematuritas.
b.
Suspensi
Ventral
Dengan melalukan tes suspensi ventral kita dapat mengetahui kontrol
kepala, curvatura thoraks dan kontrol tangan dan kaki terhadap gravitasi.
Caranya: Bayi ditidurkan dalam posisi pronasi, kemudian telapak
tangan pemeriksa menyanggah badan bayi pada daerah dada. Pada bayi aterm dan
normal, posisi kepala akan jatuh ke bawah ± membentuk sudut 45 atau kurang dari
posisi horizontal, punggung lurus atau sedikit fleksi, tangan fleksi pada siku
dan sedikit kstensi pada sendi bahu dan
sedikit fleksi pada sendi lutut. Dengan bertambahnya usia, posisi kepala
terhadap badan bayi akan semakin lurus (horizontal). Pada bayi hipotoni, leher
dan kepala bayi sangat lemas sehingga pada tes suspensi ventral akan berbentuk
seperti hurup “U” terbalik. Sedangkan pada bayi palsi serebral tes suspensi
ventral akan menunjukkan posisi hiperekstensi.
REFLEKS-REFLEKS PADA BAYI DAN ANAK
Refleks-refleks yang ditimbulkan pada bayi dan anak, sebagian besar
menunjukkan tahap perkembangan susunan somatomotorik sehingga banyak sekali
informasi yang dapat diperoleh dengan melakukan pemeriksaan tersebut.
Tabel 1. Usia Mulai dan Menghilangnya Refleks Pada Bayi dan Anak
Normal
|
Jenis refleks
|
Usia mulai
|
Usia menghilang
|
|
Reflek MORO
|
Sejak lahir
|
6 bulan
|
|
Refleks Memegang (GRASP)
|
|
|
|
PALMAR
|
Sejak lahir
|
6 bulan
|
|
PLANTAR
|
Sejak lahir
|
9-10 bulan
|
|
Refleks SNOUT
|
Sejak lahir
|
3 bulan
|
|
Refleks TONIC NECK
|
Sejak lahir
|
5-6 bulan
|
|
Refleks Berjalan (STEPPING)
|
Sejak lahir
|
12 bulan
|
|
Reaksi Penempatan Taktil
(PLACING RESPONSE)
|
5 bulan
|
|
|
Refleks Terjun (PARACHUTE)
|
8-9 bulan
|
Seterusnya ada
|
|
Refleks LANDAU
|
3 bulan
|
21 bulan
|
a.
Refleks MORO
Refleks MORO
timbul akibat dari rangsangan yang mendadak. Caranya:Bayi dibaringkan
terlentang, kemudian diposisikan setengah duduk dan disanggah oleh kedua
telapak tangan pemeriksa, secara tiba-tiba tapi hati-hati kepala bayi
dijatuhkan 30–45 (merubah posisi badan anak secara mendadak). Refleks MORO juga
dapat ditimbulkan dengan menimbulkan suara keras secara mendadak ataupun dengan
menepuk tempat tidur bayi secara mendadak. Refleks MORO dikatakan positif bila
terjadi abduksi-esktensi ke-empat ekstremitas dan pengembangan jari-jari,
kecuali pada falangs distal jari telunjuk dan ibu jari yang dalam keadaan
fleksi. Gerakan itu segera diikuti oleh adduksi-fleksi ke-empat ekstremitas.
Refleks MORO asimetri menunjukkan adanya gangguan sistem neuromuskular, antara
lain pleksus brakhialis. Apabila asimetri terjadi pada tangan dan kaki kita
harus mencurigai adanya HEMIPARESIS. Selain itu juga perlu dipertimbangkan
bahwa nyeri yang hebat akibat fraktur klavikula atau humerus juga dapat
memberikan hasil refleks MORO asimetri. Sedangkan refleks MORO menurun dapat
ditemukan pada bayi dengan fungsi SSP yang tertekan misalnya pada bayi yang
mengalami hipoksia, perdarahan intrakranial dan laserasi jaringan otak akibat
trauma persalinan, juga pada bayi hipotoni, hipertoni dan prematur. Refleks
MORO menghilang setelah bayi berusia lebih dari 6 bulan.
b.Refleks PALMAR GRASP
Caranya: Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi, kepala
menghadap ke depan dan tangan dalam keadaan setengah fleksi. Dengan memakai
jari telunjuk pemeriksa menyentuh sisi luar tangan menuju bagian tengah telapak
tangan secara cepat dan hati-hati, sambil menekan permukaan telapak tangan.
Refleks PALMAR GRASP dikatakan positif apabila didapatkan fleksi seluruh jari
(memegang tangan pemeriksa). Refleks PALMAR GRASP asimetris menunjukkan adanya
kelemahan otot-otot fleksor jari tangan yang dapat disebabkan akibat adanya
palsi pleksus brakhialis inferior atau disebut “Klumpke’s Paralyse”.
Refleks PALMAR GRASP ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah usia 6
bulan. Refleks PALMAR GRASP yang menetap setelah usia 6 bulan khas dijumpai
pada penderita cerebral palsy.
b.
Refleks PLANTAR
GRASP
Caranya: Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi kemudian
ibu jari tangan pemeriksa menekan pangkal ibu jari bayi atau anak di daerah
plantar. Refleks PLANTAR GRASP dikatakan positif apabila didapatkan fleksi
plantar seluruh jari kaki. Refleks PLANTAR GRASP negatif dijumpai pada bayi
atau anak dengan kelainan pada medula spinalis bagian bawah. Refleks PLANTAR
GRASP ini dijumpai sejak lahir, mulai menghilang usia 9 bulan dan pada usia 10
bulan sudah menghilang sama sekali.
c.
Refleks SNOUT
Caranya: Dilakukan perkusi pada daerah bibir atas. Refleks SNOUT
dikatakan positif apabila didapatkan respon berupa bibir atas dan bawah
menyengir atau kontraksi otot-otot di sekitar bibir dan di bawah hidung.
Refleks SNOUT ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah usia 3 bulan.
Refleks SNOUT yang menetap pada anak besar menunjukkan adanya regresi SSP.
d.
Refleks TONIC
NECK
Caranya: Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi, kemudian kepalanya diarahkan
menoleh ke salah satu sisi. Refleks TONIC NECK dikatakan positif apabila lengan
dan tungkai yang dihadapi/sesisi menjadi hipertoni dan ekstensi, sedangkan 6
lengan dan tungkai sisi lainnya/dibelakangi menjadi hipertoni dan fleksi
Refleks TONIC NECK ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah usia 5-6 bulan.
Refleks TONIC NECK yang masih mantap pada bayi berusia 4 bulan harus dicurigai
abnormal. Dan apabila masih bisa dibangkitkan setelah berusia 6 bulan atau
lebih harus sudah dianggap patologik. Gangguan yang terjadi biasanya pada
ganglion basalis.
e.
Refleks
Berjalan (STEPPING)
Caranya: Bayi dipegang pada daerah thorak dengan kedua tangan
pemeriksa. Kemudian pemeriksa mendaratkan bayi dalam posisi berdiri di atas
tempat periksa. Pada bayi berusia kurang dari 3 bulan, salah satu kaki yang
menyentuh alas tampat periksa akan berjingkat sedangkan pada yang berusia lebih
dari 3 bulan akan menapakkan kakinya. Kemudian diikuti oleh kaki lainnya dan
kaki yang sudah menyentuh alas periksa akan berekstensi seolah-olah melangkah
untuk melakukan gerakan berjalan secara otomatis. Refleks berjalan tidak
dijumpai atau negatif pada penderita cerebral palsy, mental retardasi,
hipotoni, hipertoni dan keadaan dimana fungsi SSP tertekan.
f.
Reaksi
Penempatan Taktil (PLACING RESPONSE)
Caranya: Seperti pada refleks berjalan, kemudian bagian dorsal kaki
bayi disentuhkan pada tepi meja periksa. Respon dikatakan positif bila bayi
meletakkan kakinya pada meja periksa. Respon yang negatif dijumpai pada bayi
dengan paralise ekstremitas bawah.
g.
Refleks Terjun
(PARACHUTE)
Caranya: Bayi dipegang pada daerah thorak dengan kedua tangan
pemeriksa dan kemudian diposisikan seolah-olah akan terjun menuju meja periksa
dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki. Refleks terjun dikatakan positif
apabila kedua lengan bayi diluruskan danjari-jari kedua tangannya dikembangkan
seolah-olah hendak mendarat di atas meja periksa dengan kedua tangannya.
Refleks terjun tidak dipengaruhi oleh kemampuan visual, karena pada bayi buta
dengan fungsi motorik normal akan memberikan hasil yang positif. Refleks terjun
mulai tampak pada usia 8 – 9 bulan dan menetap. Refleks terjun negatif dijumpai
pada bayi tetraplegi atau SSP yang tertekan.
PENGUKURAN LINGKAR KEPALA SEBAGAI ALAT DETEKSI DINI KELAINAN
NEUROLOGIS
Pengukuran lingkar kepala (Head Circumference) merupakan
bagian dari pemeriksaan klinis yang murah, mudah dan sangat penting pada bayi
dan anak. Pertumbuhan kepala sangat tergantung dari pertumbuhan isi kepala.
Apabila otak tidak berkembang secara maksimal maka kepala akan tetap kecil dan
hal ini merupakan tanda akan terjadinya perkembangan mental yang ubnormal.
Selain itu, apabila didapatkan hambatan terhadap jalannya cairan serebrospinal
(CSS) akan menyebabkan terjadinya peningkatan volume kepala sehingga kepala
akan membesar. Penambahan lingkar kepala yang cepat merupakan tanda pertama
adanya kemungkinan hidrosefalus.
Walaupun demikian, harus dipertimbangkan pula kecepatan pertumbuhan
dari berat badan dan lingkar dada, karena pada beberapa kasus dimana pengukuran
lingkar kepala menunjukkan pembesaran yang cepat tetapi apabila dibandingkan
dengan pertumbuhan berat badan ternyata masih dalam batas normal.
Oleh karena itu selain pengukuran lingkar kepala perlu diperhatikan
pula bentuk kepala penderita dan orang tuanya, ubun-ubun besar penderita,
sutura dan lain-lain. Pengukuran lingkar kepala yang benar adalah mengukur
lingkaran kepala yang melewati titik suboksipito-bregmatikus. Sampai dengan
sekarang tabel yang dipergunakan sebagai referensi pengukuran lingkar kepala
pada bayi dan anak adalah Tabel NELLHAUS dimana lingkar kepala bertambah 12 cm
dalam 12 bulan pertama dengan distribusi yang tidak merata.

Tabel 2. Lingkar kepala Menurut Nellhaus
untuk Bayi dan
Anak Laki-laki. Tabel
3. Lingkar Kepala Menurut Nellhaus untuk Bayi dan Anak Perempuan
Palpasi pada fontanel (ubun-ubun) dapat mencerminkan keadaan
tekanan intrakranial. Pada keadaan normal, ubun-ubun besar (fontanel anterior)
teraba sedikit cekung dan teraba adanya pulsasi arteri. Ukuran rata-rata
berkisar 2,1 cm dan telah menutup pada usia 13,8 bulan. Secara umum, ubun-ubun
besar mulai menutup pada umur 9 bulan dan telah menutup pada usia 18 bulan.
Ukuran ubun-ubun yang lebar dan lambat menutup dapat dijumpai pada keadaan
akondroplasi, hipotiroid, sindrom Down, peningkatan tekanan intrakranial dan
penyakit rikets. Auskultasi dapat dilakukan pada daerah glabela, temporal,
leher, mata, di belakang telinga dan mastoid. Bruit dapat ditemukan normal pada
anak usia 4 – 5 tahun berkisar 10% lebih.5
Beberapa penyebab yang mengakibatkan pertumbuhan lingkar kepala
menjadi tidak normal adalah sebagai berikut:
a.
Lingkar Kepala
Mengecil (<-2 SD)
·
Bayi kecil
·
Familial
feature
·
Mental
subnormality
·
Kraniostenosis
b.
Lingkar Kepala
Besar (>+2 SD)
·
Bayi besar
·
Familial
feature
·
Hidrosefalus
·
Megaensefali
·
Hidranensefali
·
Tumor serebral
·
Efusi subdural
KELAINAN NEUROMUSKULAR
Pada pembahasan kelainan neuromuskular ini kita hanya membahas
kelainan pada Lower Motor Neuron (LMN) dan tidak Uppe Motor Neuron (UMN). Pengertian LMN adalah
semua neuron yang menyalurkan impuls motorik pada sel otot. Sedangkan UMN
adalah semua neuron yang menyalurkan impuls motorik dari korteks serebri menuju
LMN
Tabel 4. Perbedaan antara UMN dan LMN
|
Tonus otot
|
Hipotoni (bayi) atau spastik (bayi dan
anak)
|
hipotoni
|
|
Kekuatan otot
|
Normal atau sedikit menurun
|
Sangat menurun (lemah)
|
|
Reflek-reflek
|
Refleks tendon meningkat
Refleks-refleks bayi menetap
Tes babinski positi
Tes klonus ankle dan lutut positif
|
Refleks tendon menurun atau tidak ada
sama sekali
Tes babinski negatif
Tes klonus negatif
|
|
Massa otot
|
Biasanya tidak dijumpai atropi
|
Dijumpai atropi (sulit ditemukan pada
bayi)
Ditemukan fasikulasi (sulit ditemukan
pada bayi kecuali di lidah)
|
Komponen LMN dari susunan neuromuskular terdiri dari neuron alpha
dan neuron gamma, akson, motor end plate dan otot. Pada setiap gerakan
otot, komponen-komponen tersebut merupakan “pelaksana” sedangkan UMN merupakan
“perencana” dan “pencetus”-nya.
Sehingga apabila terjadi kelumpuhan LMN akibat lesi bagian manapun,
baik neuron, akson, motor end plate atau otot, semuanya akan menunjukkan
ciri-ciri lesi LMN yang sama (lihat tabel 4) Penilaian derajad kekuatan otot
bermacam-macam. Salah satunya menilai dengan menggunakan skala angka 5 sampai
0, dengan interpretasi sebagai berikut:
5 = Normal
4 = Dapat
menggerakkan sendi dengan aktif untuk menahan berat dan melawan tahanan secara
simultan
3 = Dapat
menggerakkan anggota gerak untuk menahan berat, tetapi tidak dapat menggerakkan
anggota badan untuk melawan tahanan pemeriksa
2 = Dapat
menggerakkan anggota gerak, tetapi tidak kuat menahan berat dan tidak dapat
melawan tahanan pemeriksa
1 = Terlihat
atau teraba ada gerakan kontraksi otot, tetapi tidak ada gerakan anggota gerak
sama sekali
0 = Paralisis,
tidak ada kontraksi otot sama sekali
Kelainan sistem neuromuskular LMN diklasifikasikan berdasarkan
lokasi lesi anatominya, yaitu:
a. Anterior Horn Cell
·
Hereditary:
·
Spinal
Muscular Atrophy
·
Acquired:
·
Poliomyelitis
b. Nerve Fibre
Neuropathies:
1. Demyelinating (Infectious Polyneuritis, Personal Muscular Atrophy,
Leucodystrophies)
2. Axonal (lead, diabetes, porphyria)
c.
Neuromuscular
Junction Myasthenia gravis
d.
Muscle
Hereditary:
1. Muscular Distrophy
2. Dystrophia Myotonica
3. ongenital Myopathies
4. Metabolic Myopathies (Glycogenoses type II and IV, Malignant
Hyperpyrexia)
Acquired:
1.
Dermatomyositis/Poliomyositis
2.
Endocrine
3.
Myopathies
(Thyrotoxic)
4.
Iatrogenic
(Steroid Myopathy)
Dengan semakin majunya teknik elektrofisiologi, enzim histokimia
dan mikroskop elektron, semakin banyak pula kelainan-kelainan neuromuskular
yang dapat didiagnosis. Pemeriksaan tambahan yang diperlukan untuk mengetahui
lesi anatomi pada kelainan neuromuskular antara lain:
1.
Creatine
Phospokinase (CPK)
Kadar CPK biasanya meningkat pada beberapa kelainan neuro-muskular. CPK banyak ditemukan pada
otot polos, otot skeletal dan jaringan otak dan sedikit pada jaringan hepar dan
sel darah merah. CPK mempunyai 2 sub unit isoenzim yang dikenal sebagai “M” dan “B”, dengan
distribusi sebagai berikut:
MM = Isoenzim hanya didapatkan pada otot skeletal
BB = Isoenzim banyak didapatkan pada jaringan otak
MB = Isoenzim didapatkan pada otot jantung (Penting untuk
mendiagnosis Infark Miokard)
Serum MM isoenzim biasanya 20–30 kali lebih besar daripada isoenzim
lainnya sehingga peningkatan CPK biasanya menggambar kan peningkatan dari MM
isoenzim (otot skeletal) Serum CPK sering digunakan untuk membedakan myopati
dan proses neurogenik, terutama distropi yang disebabkan oleh kelainan sel
kornu anterior Interpretasi kenaikan serum CPK biasanya menunjukkan bahwa
proses yang terjadi adalah myopati dan bukan neurogenik.
2.
Serum
Elektrolit
Pemeriksaan serum elektrolit yang penting pada kelainan neuromuskular
adalah Kalium dan Kalsium. Selain kadar asetilkolin, kadar kalium dan kalsium
di luar dan di dalam membran “motor end
plate”, mempengaruhi kepekaan “motor end plate” itu sendiri untuk melepaskan
muatan listriknya. Kadar ion kalium yang kurang akan meninggikan kepekaan
“motor end plate” sehingga titik depolarisasi menjadi tinggi dan muatan listrik
sukar dilepaskan. Dalam keadaa tersebut serabut otot tidak dapat
dikontraksikan, sehingga otot menjadi lumpuh (paralisis). Sedangkan kekurangan
ion kalsium justru merendahkan ambang lepas muatan “motor end plate” dan
serabut otot mudah terstimulasi, sehingga dalam keadaan hipokalsemi otot
berkontraksi terus-menerus atau disebut TETANI
3.
ELEKTROFISIOLOGI
a.
Nerve
Conduction Velocity Test (Tes Kecepatan
Hantar Saraf):
Biasanya dilakukan pada saraf superfisial, misalnya N. Ulnaris atau
N. Tibialis posterior. Melambatnya kecepatan hantar saraf biasanya menunjukkan
adanya kelainan saraf perifer
b.
Electromyography
Test (EMG)
Adanya perubahan gambaran EMG dapat membantu menentukan lokasi
lesi, apakah di sel kornu anterior, saraf perifer atau di ototnya sendiri
4.
Biopsi Otot
Pada beberapa kasus kelainan neuromuskular diperlukan pemeriksaan
biopsi otot untuk membantu memastikan diagnosis.
Salah satu pemeriksaan yang perlu diperhatikan pada saat pasien
berbicara dan menangkap inti pembicaraan sebab hal ini menjadi fungsi hemisfer
dominan. Hemisfer kiri adalah bagian yang dominan untuk berbicara yang pada
umumnya terjadi pada pengguna tangan kanan dominan, sebagian juga pada orang kidal.Beberapa
gangguan bicara dapat menandakan adanya gangguan pada system neuronya. Ada 3
jenis gangguan yang dapat dikategorikan gangguan bicara, yaitu:1-3
1.
Disartria
adalah suatu gangguan yang menyerang system otot bicara sehingga
terjadi penurunan kemampuan artikulasi, enumerasi, dan irama bicara. Misalnya
saat pasien diminta untuk menirukan kata “endokarditis” maka dapat diperkirakan
pasien tidak dapat menirukan kata tersebut. Penurunan fungsi otot bicara
tersebut dapat disebabkan oleh sklerosis amiotropik lateral, paralisis
pseudobulbar, atau miastenia gravis.
2.
Disfonia
adalah suatu gangguan pada suara, atatu vokalisasi. Berbeda dengan
disartia yang terdeteksi disebabkan oleh gangguan neuro, pada disfonia juga
dapat disebabkan non-neurologis tetapi penyebab neurologisnya yaitu cedera
saraf rekuren laringeus dan tumor otak. Karakteristik penderita disfonia adalah
pasien diminta untuk mengucapkan kata “E” maka suara pasien terdengar parau dan
kasar.
3.
Afasia
merupakan suatu istilah yang menyebutkan adanya hilangnya kemampuan
untuk memahami, mengeluarkan dan menyatakan konsep bicara. Afasia dibagi
menjadi 2 yaitu afasia motorik yang merupakan istilah hilangnya suatu konsep
pemikiran seseorang yag tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata atau tulisan serta
afasia sensorik merupakan hilangnya kemampuan untuk memahami suatu percakapan.
Karakteristik penyebab afasia adalah adanya gangguan serebrovaskular yang
mengenai arteria serebri media
Untuk mengetahui gangguan pada lapisan meningeal, perlu juga melakukan
pemeriksaan tanda rangsang meningeal yaitu:1,5,6
1)
Kaku Kuduk
Caranya: Tangan pemeriksa ditempatkan di bawah kepala pasien yang
sedang baring. Kepala ditekuk (fleksi), usahakan agar dagu menyentuh dada.
Interpretasi: kaku kuduk (+) bila terasa ada tahanan dan dagu tidak
dapat mencapai dada.
Kaku Kuduk (+) dijumpai pada meningitis, miositis otot kuduk, abses
retrofaringeal, arthritis di servikal.
2)
Tanda
Kernig/Kernig Sign
Caranya: Penderita baring,
salah satu pahanya difleksikan sampai membuat sudut90°. Lalu tungkai bawah
diekstensikan pada persendian lutut. Biasanya ekstensi dilakukan sampai
membentuk sudut 135°
Interpretasi: Tanda Kernig Sign (KS) (+) bila terdapat tahanan dan
rasa nyeri sebelum mencaai sudut 135°
3)
Brudzinski (I,
II, III, IV)
·
Brudzinski I (Brudzinski’s
Neck Sign)
Caranya: Tangan ditempatkan di bawah kepala yang sedang baring.
Kita tekuk kepala (fleksi) sampai dagu mencapai dada. Tangan yang satu lagi
sebaiknya ditempatkan di dada pasien untuk mencegah diangkatnya badan.
Interpretasi: Tanda brudzinski I (+) bila terdapat fleksi pada
kedua tungkai
·
Brudzinski II
(Brudzinski’s Contra-Lateral Leg Sign)
Caranya: Pada pasien yang sedang baring, satu tungkai di fleksikan
pada persendian panggul, sedang tungkai yang satunya lagi berada dalam keadaan ekstensi
(lurus).
Interpretasi: Tanda Brudzinski II (+) bila tungkai yang satunya ikut pula
terfleksi.
·
Brudzinski III
Caranya: Tekan os zigomaticum
Interpretasi: Tanda Brudzinski III (+) bila terjadi fleksi
involunter ekstremitas superior (lengan tangan fleksi)
·
Brudzinski IV
Caranya: Tekan simfisis ossis pubis (SOP)
Interpretasi: Tanda Brudzinski IV (+) bila terjadi fleksi
involunter ekstremitas inferior (kaki)
DAFTAR PUSTAKA
Mangunatmadja I. Pemeriksaan neurologis praktis pada bayi dan anak.
[online] 2010 [cited on 2015 May 13]. Available from: http://www.scribd.com/doc/248311984/04-Pemeriksaan-Neurologis-Praktis-Pada-Bayi-Dan-Anak-Dr-Irawan-Koreksi#scribd
Ginting AP. Pemeriksaan neurologi pada anak dan bayi. [online] 2011
[cited on 2015 May 13]. Available from: http://www.scribd.com/doc/87533610/Pemeriksaan-Neurologis-Pada-Anak-Dan-Bayi#scribd
Dimyati Y. Pemeriksaan neurologis praktis pada bayi dan anak.
[online] 2011 [cited on 2015 May 13]. Available from: http://ocw.usu.ac.id/course/download/1125-PEDIATRIC-NEURO/mk_pen_slide_pemeriksaan_neurologis_praktis_pada_bayi_dan_anak.pdf
Dewi R, Mangunatmadja I, Yuniar I. Perbandingan full outline of
unresponsiveness score dengan Glasgow coma scale dalam menentukan prognostic
pasien sakit kritis. Sari Pediatri. 2011 Oct; 13(3).h. 215-20.
Mangunatmadja I. Pendekatan klinis berbagai kasus neurologi anak.
Sari Pediatri. 2010Sep; 5(2).h. 85 – 90.
Nasrullah. Refleks bayi baru lahir. Malang: Conitive Performance
Seriens; 2012.
Tim adaptasi Indonesia, et al. Buku saku pelayanan kesehatan anak
di rumah sakit. Jakarta: WHO-DEPKES RI; 2009.
Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandapura EP,
Harmoni ED.
Pedoman pelayanan medis ikatan dokter anak Indonesia. Jakarta:
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2009.
Bickley, Lynn S. Bates Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat
Kesehatan Edisi 8. Jakarta : EGC; 2009.
Capute AJ, Shapiro BK, Accardo PJ et al. Motor Function: Associated
Primitive Reflex Profiles. Developmental Medicine & Child Neurology; 1982.
Soetomenggolo, Taslim S. Dan Sofyan Ismael. Buku Ajar Neurologi
Anak Cetakan ke-2. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2000.
Lokakarya Tumbuh Kembang Anak. Pemeriksaan Neurologis Pada Bayi dan
Anak. Jakarta; 2009.
Engel, J. Seri pedoman praktis pengkajian pediatrik edisi 4.
Jakarta: EGC; 2008.
Berg OB. The clinical evaluation. Dalam: Berg OB, Editor.
Principles of child neurology. New York: McGraw-Hill; 1996. h. 5-22.
0 komentar:
Posting Komentar