MAKALAH KEPERAWATAN ANAK
PEMERIKSAAN NEUROLOGI


Description: Description: 20141002174916.jpg


Disusun Oleh:
Rizka Hidayatul p.
(7114016)



PROGRAM D3 KEPERAWATAN
FAKULTAS  ILMU  KESEHATAN
UNIVERSITAS  PESANTREN  TINGGI  DARUL ‘ULUM
JOMBANG
2016





KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah makalah tentang pemeriksaan neurologi pada anak dapat terselesaikan dengan baik. Meskipun masih banyak kekurangan baik dari isi, sistematika, maupun cara penyajiannya.
Makalah tentang pemeriksaan neurologi pada anak ini adalah sebagai pemenuhan tugas mata kuliah keperawatan anak semester 4 Program Studi Ilmu Keperawatan di UNIPDU.
Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada Pujiani, S. Kep.Ns, M.Kep. selaku dosen pengampu Mata Kuliah keperawatan anak  ini. Serta bagi semua pihak yang turut mendukung dalam pembuatan makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam mempelajari materi tentang pemeriksaan neurologi pada anak. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca dan peneliti lain yang akan menulis tentang tema yang sama, khususnya bagi kami sendiri sebagai penyusun.


                                                                                                              
                                                                       
Jombang, 11 maret 2016


Penyusun
                                 






PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
PADA BAYI DAN ANAK

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS PADA BAYI DAN ANAK
Pemeriksaan neurologis pada bayi merupakan hal tidak gampang untuk dilakukan, hal ini disebabkan karena bayi normal selalu bergerak aktif. Untuk dapat menilai apakah pemeriksaan itu normal atau abnormal, maka penting untuk mengetahui terlebih dahulu bagaimana proses  perkembangan anak normal.
Pada makalah ini akan dibicarakan mengenai beberapa cara pemeriksaan neurologis yang penting dalam praktek sehari-hari untuk mendeteksi secara dini kemungkinan-kemungkinan adanya penyimpangan tumbuh dan kembang bayi dan anak.
Adanya variasi-variasi individual pada pemeriksaan neurologis bayi ini mungkin terjadi dan harus selalu dipertimbangkan. Sebelum melakukan pemeriksaan neurologis pada bayi, perlu diketahui adanya beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pemeriksaan, yaitu:
1.      Waktu Pemeriksaan.
Waktu yang paling tepat untuk melakukan pemeriksaan adalah 2-3 jam setelah bayi selesai minum. Bayi dan anak yang diperiksa dalam keadaan mengantuk atau letih akan memberikan reaksi berlainan bila dibandingkan dengan mereka yang sudah beristirahat cukup.
2.      Suhu Ruang Periksa.
Suhu ruangan yang baik pada saat pemeriksaan adalah berkisar antara 27-290C.
Seperti halnya juga pada pemeriksaan-pemeriksaan klinis lainnya, sebaiknya pemeriksaan dimulai dengan inspeksi setelah itu diikuti dengan menilai fungsi penglihatan, fungsi pendengaran, fungsi motorik dan lain-lain.
INSPEKSI
Bayi atau bayi baru lahir secara normal akan berbaring dengan posisi lengan dan tungkai dalam keadaan fleksi, sedangkan tangannya menggenggam. Posisi bayi baru lahir tanpa kelainan neurologis bila diletakkan pada meja periksa dalam posisi telungkup (pronasi/prone position) maka kepalanya masih akan menempel pada meja, kedua lengan dan tungkainya dalam keadaan fleksi  dan bokong ke atas. Dengan semakin bertambahnya usia, maka kepalanya akan diangkat. Posisi fleksi pada bayi normal akan semakin tampak kurang jelas dengan semakin bertambahnya usia. Beberapa posisi abnormal yang dapat dijumpai pada bayi atau bayi baru lahir antara lain:
a.       FROG POSTURE
Yaitu bilamana kedua lengannya terbaring lemas di samping tubuhnya, kedua tangan terbuka disertai abduksi dan eksternal rotasi sendi panggul. Besar kemungkinan bayi tersebut adalah “Floppy Infant”.
b.      HEMIPLEGI
Yaitu bilamana hanya ekstremitas satu sisi yang fleksi, sedangkan sisi lainnya esktensi lemah. Bila hanya satu ekstremitas atas yang ekstensi lemah, kemungkinan suatu “Erb’s Paralyse”.
c.       OPISTHOTONUS
Bilamana dijumpai opisthotonus yang disertai dengan ekstensi spastik pada ke-empat ekstremitas kita curigai adanya “Cerebral Palsy”.
d.      HIPOTONI
Yaitu apabila bayi terbaring lurus tertelungkup dengan posisi kedua lengan dan tungkainya diletakkan lurus di atas meja. Biasanya bayi dengan posisi seperti ini memiliki kelainan pada SSP.
PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS
Ada 12 buah saraf kranialis yang harus dievaluasi pada bayi dan anak. Dengan melakukan pemeriksaan lengkap pada ke 12 buah saraf kranialis tersebut kita dapat mengetahui ada tidaknya gangguan pada otak.
a.       PTOSIS
Adanya ptosis baik unilateral maupun bilateral menunjukkan kemungkinan adanya gangguan di beberapa sistem saraf, antara lain:
·         Lesi pada saraf  impatik m. elevator palpebra ( Horner’s Synd rome),
·         Lesi pada N.III (Okulomotorius)
·         Congenital Myasthenia Gravis,
·         Myotonic Dystrophy
·         Congenital Muscular Dystrophy
·         Centronuclear Myopathy
b.      Gerakan Bola Mata
Observasi pada pergerakan bola mata dapat menunjukkan adanya gangguan pada otot-otot ekstraokuler yang diinervasi oleh N.III, N.IV (Trokhlearis) dan N.VI (Abdusens) Pada anak, gerakan bola mata dapat dinilai dengan menyuruh anak mengikuti gerakan jari ke berbagai arah. Kegagalan gerakan bola mata kearah lateral disebabkan gangguan saraf otak VI yang mensarafi otot rectus lateralis. Sedangkan kegagalan gerakan bola mata ke medial adalah kelumpuhan pada saraf otak III yang mensarafi otot rectus medialis. Gangguan pada semua arah gerakan menandakan adanya gangguan pada nukleus batang otak. Pemeriksaan funduskopi dapat menilai adanya korioretinitis, perdarahan atau edema papil. Apabila dicurigai adanya gangguan visus, dianjurkan konsultasi dengan dokter mata.2,5
c.       Otot Wajah
Pada saat bayi atau anak menangis kita dapat melihat apakah kontraksi otot-otot wajahnya simetris atau tidak. Adanya lesi pada N.VII (Fasialis) menyebabkan wajah bayi atau anak tampak tidak simetri pada waktu menangis.
d.      Mengisap
Kekuatan mengisap pada bayi dan anak, selain dipengaruhi otot-otot wajah yang diinervasi N.VII juga dipengaruhi oleh N.V (Trigeminus). Lesi pada kedua saraf kranialis tersebut menyebabkan bayi atau anak mengalami kesulitan mengisap ASI atau PASI.
e.       Penciuman
Merupakan fungsi dari N.I (Olfaktorius). Pemeriksaan penciuman pada bayi bukanlah hal yang mudah, tetapi pada anak yg lebih besar kita bisa meminta mereka untuk membau dengan posisi mata tertutup. Sebelum melakukan tes, pastikan terlebih dahulu tidak didapatkan adanya gangguan atau sumbatan pada lubang hidung. Pada bayi kita bisa menempelkan gelas obyek atau membran dan melihat adanya pengembunan akibat udara yang dikeluarkan. Anosmia adalah ketidakmampuan untuk membau aroma. Anosmia unilateral biasanya berkaitan dengan kerusakan pada SSP. Kerusakan yang terjadi bisa pada N.I itu sendiri, talamus atau lobus frontalis, atau pada struktur struktur yang menghubungkan organ-organ tersebut. Penyebab kelainan ini adalah trauma kepala, aneurisma, perdarahan intraserebral atau tumor.
f.       Refleks Cahaya
Refleks cahaya yang positif menunjukkan adanya respon dari N.II dan N.III.
g.      N.IX dan N.X
Refleks muntah, pergerakan pallatum dan faring, kemampuan menelan dan kekuatan tangis bayi dipengaruhi oleh inervasi N.IX (Glosofaringius) dan N.X (Vagus).



h.      Posisi Lidah
Pada lidah perhatikan ada tidaknya atropi atau  asikulasi. Lidah diperiksa harus dalam keadaan istirahat di dasar mulut. Apabila didapatkan kontraksi yang cepat dan fasikulasi, harus dicurigai adanya gangguan pada nukleus N.XII (Hipoglosus) atau kranialis N.XII.
FUNGSI MOTORIK
Evaluasi sistem motor pada anak usia sekolah dapat dilakukan secara formal dan biasanya cukup pada otot proksimal dan distal anggota gerak atas dan bawah. Uji kekuatan otot hanya dapat dilakukan pada anak yang sudah dapat mengerjakan instruksi pemeriksa dan kooperatif. Pada bayi dan anak yang tidak kooperatif hanya dapat dinilai kesan keseluruhan saja.
a.       Respon Traksi
Pada seorang bayi atau anak yang normal, sebelum dapat duduk maka dia terlebih dahulu harus mempunyai kontrol terhadap fungsi otot-otot lehernya. Sejak lahir sampai dengan usia 2 bulan, kepala anak akan tertinggal bilamana  ita mengangkat anak tersebut pada kedua tangannya dari posisi tidur ke posisi duduk. Keadaan ini disebut dengan “Head Leg”. Salah satu tes untuk mengetahui kontrol terhadap otot-otot leher dan kepala ini adalah Respon Traksi.
Caranya:Bayi ditidurkan dalam posisi supinasi simetris, kemudian pemeriksa memegang kedua tangan bayi pada pergelangan tangan, secara perlahan-lahan anak ditarik sampai pada posisi duduk. Kemudian dievaluasi kemampuan bayi dalam mengontrol posisi leher dan kepalanya. Apabila kepala masih tertinggal di belakang pada saat bayi posisi duduk maka head  leg-nya positif (masih ada), tapi apabila bayi mampu mengangkat kepalanya pada saat posisi duduk maka head leg-nya negatif (menghilang). Head leg harus sudah menghilang setelah bayi berusia 3 bulan. Apabila setelah usia 3 bulan masih didapatkan head leg yang positif, maka harus dicurigai adanya kemungkinan hipotoni, kelainan SSP atau prematuritas.
b.      Suspensi Ventral
Dengan melalukan tes suspensi ventral kita dapat mengetahui kontrol kepala, curvatura thoraks dan kontrol tangan dan kaki terhadap gravitasi.
Caranya: Bayi ditidurkan dalam posisi pronasi, kemudian telapak tangan pemeriksa menyanggah badan bayi pada daerah dada. Pada bayi aterm dan normal, posisi kepala akan jatuh ke bawah ± membentuk sudut 45 atau kurang dari posisi horizontal, punggung lurus atau sedikit fleksi, tangan fleksi pada siku dan sedikit  kstensi pada sendi bahu dan sedikit fleksi pada sendi lutut. Dengan bertambahnya usia, posisi kepala terhadap badan bayi akan semakin lurus (horizontal). Pada bayi hipotoni, leher dan kepala bayi sangat lemas sehingga pada tes suspensi ventral akan berbentuk seperti hurup “U” terbalik. Sedangkan pada bayi palsi serebral tes suspensi ventral akan menunjukkan posisi hiperekstensi.













REFLEKS-REFLEKS PADA BAYI DAN ANAK
Refleks-refleks yang ditimbulkan pada bayi dan anak, sebagian besar menunjukkan tahap perkembangan susunan somatomotorik sehingga banyak sekali informasi yang dapat diperoleh dengan melakukan pemeriksaan tersebut.
Tabel 1. Usia Mulai dan Menghilangnya Refleks Pada Bayi dan Anak Normal
Jenis refleks
Usia mulai
Usia menghilang
Reflek MORO
Sejak lahir
6 bulan
Refleks Memegang (GRASP)


PALMAR
Sejak lahir
6 bulan
PLANTAR
Sejak lahir
9-10 bulan
Refleks SNOUT
Sejak lahir
3 bulan
Refleks TONIC NECK
Sejak lahir
5-6 bulan
Refleks Berjalan (STEPPING)
Sejak lahir
12 bulan
Reaksi Penempatan Taktil
(PLACING RESPONSE)
5 bulan

Refleks Terjun (PARACHUTE)
8-9 bulan
Seterusnya ada
Refleks LANDAU
3 bulan
21 bulan

a.      Refleks MORO
Refleks MORO timbul akibat dari rangsangan yang mendadak. Caranya:Bayi dibaringkan terlentang, kemudian diposisikan setengah duduk dan disanggah oleh kedua telapak tangan pemeriksa, secara tiba-tiba tapi hati-hati kepala bayi dijatuhkan 30–45 (merubah posisi badan anak secara mendadak). Refleks MORO juga dapat ditimbulkan dengan menimbulkan suara keras secara mendadak ataupun dengan menepuk tempat tidur bayi secara mendadak. Refleks MORO dikatakan positif bila terjadi abduksi-esktensi ke-empat ekstremitas dan pengembangan jari-jari, kecuali pada falangs distal jari telunjuk dan ibu jari yang dalam keadaan fleksi. Gerakan itu segera diikuti oleh adduksi-fleksi ke-empat ekstremitas. Refleks MORO asimetri menunjukkan adanya gangguan sistem neuromuskular, antara lain pleksus brakhialis. Apabila asimetri terjadi pada tangan dan kaki kita harus mencurigai adanya HEMIPARESIS. Selain itu juga perlu dipertimbangkan bahwa nyeri yang hebat akibat fraktur klavikula atau humerus juga dapat memberikan hasil refleks MORO asimetri. Sedangkan refleks MORO menurun dapat ditemukan pada bayi dengan fungsi SSP yang tertekan misalnya pada bayi yang mengalami hipoksia, perdarahan intrakranial dan laserasi jaringan otak akibat trauma persalinan, juga pada bayi hipotoni, hipertoni dan prematur. Refleks MORO menghilang setelah bayi berusia lebih dari 6 bulan.


b.Refleks PALMAR GRASP
Caranya: Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi, kepala menghadap ke depan dan tangan dalam keadaan setengah fleksi. Dengan memakai jari telunjuk pemeriksa menyentuh sisi luar tangan menuju bagian tengah telapak tangan secara cepat dan hati-hati, sambil menekan permukaan telapak tangan. Refleks PALMAR GRASP dikatakan positif apabila didapatkan fleksi seluruh jari (memegang tangan pemeriksa). Refleks PALMAR GRASP asimetris menunjukkan adanya kelemahan otot-otot fleksor jari tangan yang dapat disebabkan akibat adanya palsi pleksus brakhialis inferior atau disebut “Klumpke’s Paralyse”. Refleks PALMAR GRASP ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah usia 6 bulan. Refleks PALMAR GRASP yang menetap setelah usia 6 bulan khas dijumpai pada penderita cerebral palsy.
b.      Refleks PLANTAR GRASP
Caranya: Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi kemudian ibu jari tangan pemeriksa menekan pangkal ibu jari bayi atau anak di daerah plantar. Refleks PLANTAR GRASP dikatakan positif apabila didapatkan fleksi plantar seluruh jari kaki. Refleks PLANTAR GRASP negatif dijumpai pada bayi atau anak dengan kelainan pada medula spinalis bagian bawah. Refleks PLANTAR GRASP ini dijumpai sejak lahir, mulai menghilang usia 9 bulan dan pada usia 10 bulan sudah menghilang sama sekali.
c.       Refleks SNOUT
Caranya: Dilakukan perkusi pada daerah bibir atas. Refleks SNOUT dikatakan positif apabila didapatkan respon berupa bibir atas dan bawah menyengir atau kontraksi otot-otot di sekitar bibir dan di bawah hidung. Refleks SNOUT ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah usia 3 bulan. Refleks SNOUT yang menetap pada anak besar menunjukkan adanya regresi SSP.
d.      Refleks TONIC NECK
Caranya: Bayi atau anak ditidurkan dalam  posisi supinasi, kemudian kepalanya diarahkan menoleh ke salah satu sisi. Refleks TONIC NECK dikatakan positif apabila lengan dan tungkai yang dihadapi/sesisi menjadi hipertoni dan ekstensi, sedangkan 6 lengan dan tungkai sisi lainnya/dibelakangi menjadi hipertoni dan fleksi Refleks TONIC NECK ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah usia 5-6 bulan. Refleks TONIC NECK yang masih mantap pada bayi berusia 4 bulan harus dicurigai abnormal. Dan apabila masih bisa dibangkitkan setelah berusia 6 bulan atau lebih harus sudah dianggap patologik. Gangguan yang terjadi biasanya pada ganglion basalis.
e.       Refleks Berjalan (STEPPING)
Caranya: Bayi dipegang pada daerah thorak dengan kedua tangan pemeriksa. Kemudian pemeriksa mendaratkan bayi dalam posisi berdiri di atas tempat periksa. Pada bayi berusia kurang dari 3 bulan, salah satu kaki yang menyentuh alas tampat periksa akan berjingkat sedangkan pada yang berusia lebih dari 3 bulan akan menapakkan kakinya. Kemudian diikuti oleh kaki lainnya dan kaki yang sudah menyentuh alas periksa akan berekstensi seolah-olah melangkah untuk melakukan gerakan berjalan secara otomatis. Refleks berjalan tidak dijumpai atau negatif pada penderita cerebral palsy, mental retardasi, hipotoni, hipertoni dan keadaan dimana fungsi SSP tertekan.
f.       Reaksi Penempatan Taktil (PLACING RESPONSE)
Caranya: Seperti pada refleks berjalan, kemudian bagian dorsal kaki bayi disentuhkan pada tepi meja periksa. Respon dikatakan positif bila bayi meletakkan kakinya pada meja periksa. Respon yang negatif dijumpai pada bayi dengan paralise ekstremitas bawah.
g.      Refleks Terjun (PARACHUTE)
Caranya: Bayi dipegang pada daerah thorak dengan kedua tangan pemeriksa dan kemudian diposisikan seolah-olah akan terjun menuju meja periksa dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki. Refleks terjun dikatakan positif apabila kedua lengan bayi diluruskan danjari-jari kedua tangannya dikembangkan seolah-olah hendak mendarat di atas meja periksa dengan kedua tangannya. Refleks terjun tidak dipengaruhi oleh kemampuan visual, karena pada bayi buta dengan fungsi motorik normal akan memberikan hasil yang positif. Refleks terjun mulai tampak pada usia 8 – 9 bulan dan menetap. Refleks terjun negatif dijumpai pada bayi tetraplegi atau SSP yang tertekan.

PENGUKURAN LINGKAR KEPALA SEBAGAI ALAT DETEKSI DINI KELAINAN NEUROLOGIS
Pengukuran lingkar kepala (Head Circumference) merupakan bagian dari pemeriksaan klinis yang murah, mudah dan sangat penting pada bayi dan anak. Pertumbuhan kepala sangat tergantung dari pertumbuhan isi kepala. Apabila otak tidak berkembang secara maksimal maka kepala akan tetap kecil dan hal ini merupakan tanda akan terjadinya perkembangan mental yang ubnormal. Selain itu, apabila didapatkan hambatan terhadap jalannya cairan serebrospinal (CSS) akan menyebabkan terjadinya peningkatan volume kepala sehingga kepala akan membesar. Penambahan lingkar kepala yang cepat merupakan tanda pertama adanya kemungkinan hidrosefalus.
Walaupun demikian, harus dipertimbangkan pula kecepatan pertumbuhan dari berat badan dan lingkar dada, karena pada beberapa kasus dimana pengukuran lingkar kepala menunjukkan pembesaran yang cepat tetapi apabila dibandingkan dengan pertumbuhan berat badan ternyata masih dalam batas normal.
Oleh karena itu selain pengukuran lingkar kepala perlu diperhatikan pula bentuk kepala penderita dan orang tuanya, ubun-ubun besar penderita, sutura dan lain-lain. Pengukuran lingkar kepala yang benar adalah mengukur lingkaran kepala yang melewati titik suboksipito-bregmatikus. Sampai dengan sekarang tabel yang dipergunakan sebagai referensi pengukuran lingkar kepala pada bayi dan anak adalah Tabel NELLHAUS dimana lingkar kepala bertambah 12 cm dalam 12 bulan pertama dengan distribusi yang tidak merata.











Tabel 2. Lingkar kepala Menurut Nellhaus
untuk Bayi dan Anak Laki-laki.                        Tabel 3. Lingkar Kepala Menurut Nellhaus untuk Bayi dan Anak Perempuan
Palpasi pada fontanel (ubun-ubun) dapat mencerminkan keadaan tekanan intrakranial. Pada keadaan normal, ubun-ubun besar (fontanel anterior) teraba sedikit cekung dan teraba adanya pulsasi arteri. Ukuran rata-rata berkisar 2,1 cm dan telah menutup pada usia 13,8 bulan. Secara umum, ubun-ubun besar mulai menutup pada umur 9 bulan dan telah menutup pada usia 18 bulan. Ukuran ubun-ubun yang lebar dan lambat menutup dapat dijumpai pada keadaan akondroplasi, hipotiroid, sindrom Down, peningkatan tekanan intrakranial dan penyakit rikets. Auskultasi dapat dilakukan pada daerah glabela, temporal, leher, mata, di belakang telinga dan mastoid. Bruit dapat ditemukan normal pada anak usia 4 – 5 tahun berkisar 10% lebih.5
Beberapa penyebab yang mengakibatkan pertumbuhan lingkar kepala menjadi tidak normal adalah sebagai berikut:
a.       Lingkar Kepala Mengecil (<-2 SD)
·         Bayi kecil
·         Familial feature
·         Mental subnormality
·         Kraniostenosis
b.      Lingkar Kepala Besar (>+2 SD)
·         Bayi besar
·         Familial feature
·         Hidrosefalus
·         Megaensefali
·         Hidranensefali
·         Tumor serebral
·         Efusi subdural

KELAINAN NEUROMUSKULAR
Pada pembahasan kelainan neuromuskular ini kita hanya membahas kelainan pada Lower Motor Neuron (LMN) dan tidak Uppe  Motor Neuron (UMN). Pengertian LMN adalah semua neuron yang menyalurkan impuls motorik pada sel otot. Sedangkan UMN adalah semua neuron yang menyalurkan impuls motorik dari korteks serebri menuju LMN
Tabel 4. Perbedaan antara UMN dan LMN
Tonus otot
Hipotoni (bayi) atau spastik (bayi dan anak)
hipotoni
Kekuatan otot
Normal atau sedikit menurun
Sangat menurun (lemah)
Reflek-reflek
Refleks tendon meningkat
Refleks-refleks bayi menetap
Tes babinski positi
Tes klonus ankle dan lutut positif
Refleks tendon menurun atau tidak ada sama sekali
Tes babinski negatif
Tes klonus negatif
Massa otot
Biasanya tidak dijumpai atropi
Dijumpai atropi (sulit ditemukan pada bayi)
Ditemukan fasikulasi (sulit ditemukan pada bayi kecuali di lidah)
Komponen LMN dari susunan neuromuskular terdiri dari neuron alpha dan neuron gamma, akson, motor end plate dan otot. Pada setiap gerakan otot, komponen-komponen tersebut merupakan “pelaksana” sedangkan UMN merupakan “perencana” dan “pencetus”-nya.
Sehingga apabila terjadi kelumpuhan LMN akibat lesi bagian manapun, baik neuron, akson, motor end plate atau otot, semuanya akan menunjukkan ciri-ciri lesi LMN yang sama (lihat tabel 4) Penilaian derajad kekuatan otot bermacam-macam. Salah satunya menilai dengan menggunakan skala angka 5 sampai 0, dengan interpretasi sebagai berikut:
5     =     Normal
4     =     Dapat menggerakkan sendi dengan aktif untuk menahan berat dan melawan tahanan secara simultan
3     =     Dapat menggerakkan anggota gerak untuk menahan berat, tetapi tidak dapat menggerakkan anggota badan untuk melawan tahanan pemeriksa
2     =     Dapat menggerakkan anggota gerak, tetapi tidak kuat menahan berat dan tidak dapat melawan tahanan pemeriksa
1     =     Terlihat atau teraba ada gerakan kontraksi otot, tetapi tidak ada gerakan anggota gerak sama sekali
0     =     Paralisis, tidak ada kontraksi otot sama sekali
Kelainan sistem neuromuskular LMN diklasifikasikan berdasarkan lokasi lesi anatominya, yaitu:
a.       Anterior Horn Cell
·         Hereditary:
·         Spinal Muscular  Atrophy
·         Acquired:
·         Poliomyelitis

b.      Nerve Fibre
Neuropathies:
1. Demyelinating (Infectious Polyneuritis, Personal Muscular Atrophy, Leucodystrophies)
2. Axonal (lead, diabetes, porphyria)
c.       Neuromuscular Junction Myasthenia gravis
d.      Muscle
Hereditary:
1. Muscular Distrophy
2. Dystrophia Myotonica
3. ongenital Myopathies
4. Metabolic Myopathies (Glycogenoses type II and IV, Malignant Hyperpyrexia)
Acquired:
1.      Dermatomyositis/Poliomyositis
2.      Endocrine
3.      Myopathies (Thyrotoxic)
4.      Iatrogenic (Steroid Myopathy)
Dengan semakin majunya teknik elektrofisiologi, enzim histokimia dan mikroskop elektron, semakin banyak pula kelainan-kelainan neuromuskular yang dapat didiagnosis. Pemeriksaan tambahan yang diperlukan untuk mengetahui lesi anatomi pada kelainan neuromuskular antara lain:
1.      Creatine Phospokinase (CPK)
Kadar CPK biasanya meningkat pada beberapa kelainan  neuro-muskular. CPK banyak ditemukan pada otot polos, otot skeletal dan jaringan otak dan sedikit pada jaringan hepar dan sel darah merah. CPK mempunyai 2 sub unit isoenzim  yang dikenal sebagai “M” dan “B”, dengan distribusi sebagai berikut:
MM = Isoenzim hanya didapatkan pada otot skeletal
BB = Isoenzim banyak didapatkan pada jaringan otak
MB = Isoenzim didapatkan pada otot jantung (Penting untuk mendiagnosis Infark Miokard)
Serum MM isoenzim biasanya 20–30 kali lebih besar daripada isoenzim lainnya sehingga peningkatan CPK biasanya menggambar kan peningkatan dari MM isoenzim (otot skeletal) Serum CPK sering digunakan untuk membedakan myopati dan proses neurogenik, terutama distropi yang disebabkan oleh kelainan sel kornu anterior Interpretasi kenaikan serum CPK biasanya menunjukkan bahwa proses yang terjadi adalah myopati dan bukan neurogenik.
2.      Serum Elektrolit
Pemeriksaan serum elektrolit yang penting pada kelainan neuromuskular adalah Kalium dan Kalsium. Selain kadar asetilkolin, kadar kalium dan kalsium di luar dan di dalam membran “motor  end plate”, mempengaruhi kepekaan “motor end plate” itu sendiri untuk melepaskan muatan listriknya. Kadar ion kalium yang kurang akan meninggikan kepekaan “motor end plate” sehingga titik depolarisasi menjadi tinggi dan muatan listrik sukar dilepaskan. Dalam keadaa tersebut serabut otot tidak dapat dikontraksikan, sehingga otot menjadi lumpuh (paralisis). Sedangkan kekurangan ion kalsium justru merendahkan ambang lepas muatan “motor end plate” dan serabut otot mudah terstimulasi, sehingga dalam keadaan hipokalsemi otot berkontraksi terus-menerus atau disebut TETANI
3.      ELEKTROFISIOLOGI
a.       Nerve Conduction Velocity Test (Tes Kecepatan Hantar Saraf):
Biasanya dilakukan pada saraf superfisial, misalnya N. Ulnaris atau N. Tibialis posterior. Melambatnya kecepatan hantar saraf biasanya menunjukkan adanya kelainan saraf perifer
b.      Electromyography Test (EMG)
Adanya perubahan gambaran EMG dapat membantu menentukan lokasi lesi, apakah di sel kornu anterior, saraf perifer atau di ototnya sendiri
4.      Biopsi Otot
Pada beberapa kasus kelainan neuromuskular diperlukan pemeriksaan biopsi otot untuk membantu memastikan diagnosis.
Salah satu pemeriksaan yang perlu diperhatikan pada saat pasien berbicara dan menangkap inti pembicaraan sebab hal ini menjadi fungsi hemisfer dominan. Hemisfer kiri adalah bagian yang dominan untuk berbicara yang pada umumnya terjadi pada pengguna tangan kanan dominan, sebagian juga pada orang kidal.Beberapa gangguan bicara dapat menandakan adanya gangguan pada system neuronya. Ada 3 jenis gangguan yang dapat dikategorikan gangguan bicara, yaitu:1-3
1.      Disartria
adalah suatu gangguan yang menyerang system otot bicara sehingga terjadi penurunan kemampuan artikulasi, enumerasi, dan irama bicara. Misalnya saat pasien diminta untuk menirukan kata “endokarditis” maka dapat diperkirakan pasien tidak dapat menirukan kata tersebut. Penurunan fungsi otot bicara tersebut dapat disebabkan oleh sklerosis amiotropik lateral, paralisis pseudobulbar, atau miastenia gravis.

2.      Disfonia
adalah suatu gangguan pada suara, atatu vokalisasi. Berbeda dengan disartia yang terdeteksi disebabkan oleh gangguan neuro, pada disfonia juga dapat disebabkan non-neurologis tetapi penyebab neurologisnya yaitu cedera saraf rekuren laringeus dan tumor otak. Karakteristik penderita disfonia adalah pasien diminta untuk mengucapkan kata “E” maka suara pasien terdengar parau dan kasar.
3.      Afasia
merupakan suatu istilah yang menyebutkan adanya hilangnya kemampuan untuk memahami, mengeluarkan dan menyatakan konsep bicara. Afasia dibagi menjadi 2 yaitu afasia motorik yang merupakan istilah hilangnya suatu konsep pemikiran seseorang yag tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata atau tulisan serta afasia sensorik merupakan hilangnya kemampuan untuk memahami suatu percakapan. Karakteristik penyebab afasia adalah adanya gangguan serebrovaskular yang mengenai arteria serebri media
Untuk mengetahui gangguan pada lapisan meningeal, perlu juga melakukan pemeriksaan tanda rangsang meningeal yaitu:1,5,6
1)      Kaku Kuduk
Caranya: Tangan pemeriksa ditempatkan di bawah kepala pasien yang sedang baring. Kepala ditekuk (fleksi), usahakan agar dagu menyentuh dada.
Interpretasi: kaku kuduk (+) bila terasa ada tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada.
Kaku Kuduk (+) dijumpai pada meningitis, miositis otot kuduk, abses retrofaringeal, arthritis di servikal.
2)      Tanda Kernig/Kernig Sign
Caranya:  Penderita baring, salah satu pahanya difleksikan sampai membuat sudut90°. Lalu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut. Biasanya ekstensi dilakukan sampai membentuk sudut 135°
Interpretasi: Tanda Kernig Sign (KS) (+) bila terdapat tahanan dan rasa nyeri sebelum mencaai sudut 135°
3)      Brudzinski (I, II, III, IV)
·         Brudzinski I (Brudzinski’s Neck Sign)
Caranya: Tangan ditempatkan di bawah kepala yang sedang baring. Kita tekuk kepala (fleksi) sampai dagu mencapai dada. Tangan yang satu lagi sebaiknya ditempatkan di dada pasien untuk mencegah diangkatnya badan.
Interpretasi: Tanda brudzinski I (+) bila terdapat fleksi pada kedua tungkai
·         Brudzinski II (Brudzinski’s Contra-Lateral Leg Sign)
Caranya: Pada pasien yang sedang baring, satu tungkai di fleksikan pada persendian panggul, sedang tungkai yang satunya lagi berada dalam keadaan ekstensi (lurus).
Interpretasi: Tanda Brudzinski II (+)  bila tungkai yang satunya ikut pula terfleksi.
·         Brudzinski III
Caranya: Tekan os zigomaticum
Interpretasi: Tanda Brudzinski III (+) bila terjadi fleksi involunter ekstremitas superior (lengan tangan fleksi)
·         Brudzinski IV
Caranya: Tekan simfisis ossis pubis (SOP)
Interpretasi: Tanda Brudzinski IV (+) bila terjadi fleksi involunter ekstremitas inferior (kaki)



























DAFTAR PUSTAKA

Mangunatmadja I. Pemeriksaan neurologis praktis pada bayi dan anak. [online] 2010 [cited on 2015 May 13]. Available from: http://www.scribd.com/doc/248311984/04-Pemeriksaan-Neurologis-Praktis-Pada-Bayi-Dan-Anak-Dr-Irawan-Koreksi#scribd
Ginting AP. Pemeriksaan neurologi pada anak dan bayi. [online] 2011 [cited on 2015 May 13]. Available from: http://www.scribd.com/doc/87533610/Pemeriksaan-Neurologis-Pada-Anak-Dan-Bayi#scribd
Dimyati Y. Pemeriksaan neurologis praktis pada bayi dan anak. [online] 2011 [cited on 2015 May 13]. Available from: http://ocw.usu.ac.id/course/download/1125-PEDIATRIC-NEURO/mk_pen_slide_pemeriksaan_neurologis_praktis_pada_bayi_dan_anak.pdf
Dewi R, Mangunatmadja I, Yuniar I. Perbandingan full outline of unresponsiveness score dengan Glasgow coma scale dalam menentukan prognostic pasien sakit kritis. Sari Pediatri. 2011 Oct; 13(3).h. 215-20.
Mangunatmadja I. Pendekatan klinis berbagai kasus neurologi anak. Sari Pediatri. 2010Sep; 5(2).h. 85 – 90.
Nasrullah. Refleks bayi baru lahir. Malang: Conitive Performance Seriens; 2012.
Tim adaptasi Indonesia, et al. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Jakarta: WHO-DEPKES RI; 2009.
Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandapura EP, Harmoni ED.
Pedoman pelayanan medis ikatan dokter anak Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2009.
Bickley, Lynn S. Bates Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan Edisi 8. Jakarta : EGC; 2009.
Capute AJ, Shapiro BK, Accardo PJ et al. Motor Function: Associated Primitive Reflex Profiles. Developmental Medicine & Child Neurology; 1982.
Soetomenggolo, Taslim S. Dan Sofyan Ismael. Buku Ajar Neurologi Anak Cetakan ke-2. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2000.
Lokakarya Tumbuh Kembang Anak. Pemeriksaan Neurologis Pada Bayi dan Anak. Jakarta; 2009.
Engel, J. Seri pedoman praktis pengkajian pediatrik edisi 4. Jakarta: EGC; 2008.
Berg OB. The clinical evaluation. Dalam: Berg OB, Editor. Principles of child neurology. New York: McGraw-Hill; 1996. h. 5-22.


0 komentar:

Posting Komentar

Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 rizka_hp blog All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates