MAKALAH ANTROPOLOGI
(MASALAH-MASALAH SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MASYARAKAT, UTAMANYA DI BIDANG KEPERAWATAN)
(MASALAH-MASALAH SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MASYARAKAT, UTAMANYA DI BIDANG KEPERAWATAN)

DI SUSUN OLEH:
1.
RISKA HIDAYATUL P
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL
ULUM
PETERONGAN JOMBANG
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. bahwa
kami telah menyelesaikan tugas mata kuliah antropologi dengan membahas masalah sosial budaya yang mempengaruhi kesehatan
masyarakat utamanya dslam bidang keperawatan
Makalah ini kami tulis berdasarkan hasil pencarian
kami dari beberapa sumber. isi makalah ini mencakup tentang masalah-masalah sosial budaya yang terjadi
di dlam masyarakat Makalah ini di harapkan cukup untuk memberikan
pengertian tentang aspek social budaya yang mempengaruhi perilaku kesehatan
dalam masyarakat.
Sudah tentu makalah ini masih jauh dari sempurna dan
juga masih banyak kekurangannya. Maka saran, petunjuk pengang terjadi dirahan,
dan bimbingan dari berbagai pihak sangat kami harapkan.
Semoga makalah ini mendapat Ridho dari Allah SWT, dan
bisa bermanfaat bagi kita semua.
Jombang 20 april 20115
Penyusun
BAB IPENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
1.2.
TUJUAN
BAB
IIPEMABAHASAN
2.1.
Keperawatan
2.2.
Proses keperawatan
BAB IIIPENUTUP
3.1. KESIMPULAN
3.2.
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
2.3. LATAR BELAKANG
Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran dan / atau kesehatan
dalam kegiatan, program kesehatan harus mengutamakan peningkatan kesehatan dan
pencegahan penyakit. Kegiatan, proyek dan program kesehatan
diselenggarakan agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan
derajat kesehatan masyarakat. Kegiatan, proyek dan program kesehatan
diselenggarakan dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan standar profesi dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mempertimbangkan dengan
sungguh-sungguh kebutuhan dan kondisi spesifik daerah.
Prospek perawat profesional di masa depan sangat ditentukan oleh banyak
faktor, mulai faktor keadaan kestabilan sosial-ekonomi-politik di Indonesia dan
faktor internal pada diri perawat sendiri.
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa,
dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan
kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk
kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang,
dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat
keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang mempengaruhi kesehatan
pribadinya dan orang lain. Definisi yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh
Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah
kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela
terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan. Data terakhir menunjukkan bahwa
saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapat jaminan
kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan,
seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek. Golongan masyarakat yang dianggap
'teranaktirikan' dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan
masyarakat kecil dan pedagang. Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi
lebih pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait
beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan
kesehatan itu sendiri.
Menjadi seorang tenaga kesehatan (perawat) bukanlah
hal yang mudah. Seorang perawat harus siap fisik maupun mental, karena tugas
seorang perawat sangatlah berat. Di Indonesia ini jumlah perawat memang tidak
sedikit, tetapi untuk di pelosok daerah masih banyak masyarakat yang belum
paham akan arti dari profesi tenaga medis. perawat yang siap mengabdi di
kawasan pedesaan, artinya ia juga harus siap dengan konsekuensi yang akan
terjadi. Tak mudah mengubah pola pikir ataupun kebiasaan masyarakat. Apalagi,
masalah proses pertolongan atau penyembuhan. Kehadiran tenaga medis dengan
spesialisasi melayani masyarakat di beberapa daerah terpencil
merupakan hal yang baru dan tidak mudah ubtuk beradtasi dengan budaya dan
kebiasaan masyarakat.
Setiap
individu, keluarga dan masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk
memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sehingga dapat mencapai derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya. Kesempatan untuk memperoleh pelayanan
kesehatan yang berkualitas, terjangkau dan tepat waktu tidak boleh memandang
perbedaan ras, golongan, agama dan status sosial ekonomi seorang individu,
keluarga atau sekelompok masyarakat.
Pembangunan
kesehatan yang cenderung urban-based harus terus diimbangi dengan
upaya-upaya pelayanan kesehatan yang bersifat rujukan, bersifat luar gedung
maupun yang bersifat satelit pelayanan. Dengan demikian, pembangunan
kesehatan dapat menjangkau kantong-kantong penduduk risiko tinggi yang
merupakan penyumbang terbesar kejadian sakit dan kematian.
Kelompok-kelompok penduduk inilah yang sesungguhnya lebih membutuhkan
pertolongan karena selain lebih rentan terhadap penyakit, kemampuan membayar
mereka jauh lebih sedikit.
2.4.
TUJUAN
·
Mengetahuitentanggambaranprospek
social budaya terhadap pelayanan kesehatan khusunya keperawatan
·
Mengetahuipengaruh social budaya
terhadap penerapan pelayanan kesehatan khususnya keperawatan
·
Mengetahuidamapak- dampakdari social
budaya dalam penerapan pelayanan kesehatan
·
Sebagaibahan ajar dan penambahan
pengetahuan tentang gambaran prospek social budaya dalam pelayanan kesehatan.
BAB II
PEMABAHASAN
Prospek pengembangan pelayanan
kesehatan yang berdasarkan pada perkembangan social buadaya khusunya
keperawat sangat cerah pada masa mendatang ditinjau dari kekayaan budaya di
indonesia. Namun dapat menimbulkan masalah dalam penerapan pelayanan kesehatan
ketika budaya tidak sesuai dengan penerapan asuahan keperawatn. Antara faktor
penyokongnya tersedianya sumber kekayaan alam Indonesia dengan keanekaragaman
hayati terbesar kedua di dunia, sejarah pengobatan tradisional yang telah
dikenal lama oleh nenek moyang dan diamalkan secara turun temurun sehingga
menjadi warisan budaya bangsa, isu global “back to nature” sehingga
meningkatkan pasar produk herbal termasuk Indonesia, krisis moneter menyebabkan
pengobatan tradisional menjadi pilihan utama bagi sebagian besar masyarakat dan
kebijakan pemerintah.
Social budaya erat kaitannya
dengan pendekatan ilmu antropoligi yaitu Kata Antropologi berasal dari bahasa
Yunani, anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos berarti
pikiran atau ilmu. Secara sederhana, Antropologi dapat dikatakan sebagai ilmu
yang mempelajari manusia. Tentunya kita akan semakin bertanya-tanya, begitu
banyak ilmu yang mempelajari manusia.
Menurut William A. Haviland, seorang
antropologi Amerika, Antropologi adalah ilrnu pengetahuan yang mempelajari
keanekaragaman manusia dan kebudayaannya. Dengan mempelajari kedua hal
tersebut, Antropologi adalah studi yang berusaha menjelaskan tentang berbagai
macam bentuk perbedaan dan persamaan dalam aneka ragam kebudayaan manusia.
berusaha mencapai sebuah
pemahaman tentang manusia secara fisik, manusia dalam masyarakatnya, dan
manusia dengan kebudayaannya. Secara praktis, Antropologi berusaha membangun
suatu pandangan bahwa perbedaan manusia dan kebudayaannya merupakan suatu hal
yang harus dapat diterima, bukan sebagai sumber konflik tetapi sebagai sumber
pemahaman baru, agar secara terus-menerus manusia dapat merefleksikan dirinya.
Secara praktis, kajian ilmu Antropologi dapat digunakan untuk membangun
masyarakat dan kebudayaannya tanpa harus membuat masyarakat dan kebudayaan itu,
kehilangan identitas atau tersingkir dari peradaban.
Dengan demikian jelas bahwa prospek
social budaya dalam pelayanan kesehatan khususnya keperawatan adalah untuk
menerapkan pendekatan antropologi yang berorintasi pada keaneka ragaman budaya
baik antar budaya maupaun lintas budaya terhadap asuhan keperawatan yang tidak
membedakan perbedaan budaya dan melaksanakan sesuai dengan hati nurari dan
sesuai dengan standar penerapan tanpa membedakan suku, ras, budaya, dan
lain-lian
Tuntutan kebutuhan masyarakat akan
pelayanan kesehatan pada abad ke-21, termasuk tuntutan terhadap asuhan
keperawatan yang berkualitas akan semakin besar. Dengan adanya globalisasi,
dimana perpindahan penduduk antar negara (imigrasi) dimungkinkan, menyebabkan
adaya pergeseran terhadap tuntutan asuhan keperawatan.
Keperawatan sebagai profesi memiliki
landasan body of knowledge yang kuat, yang dapat dikembangkan serta dapat
diaplikasikan dalam praktek keperawatan. Perkembangan teori keperawatan terbagi
menjadi 4 level perkembangan yaitu metha theory, grand theory, midle range
theory dan practice theory.Salah satu teori yang diungkapkan pada midle range
theory adalah TransculturalNursing
Theory. Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan
dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep.
keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai
kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah
penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan
asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan
mengakibatkan terjadinya cultural shock.
Cultural shock akan dialami oleh
klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan
perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya
rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan danbeberapa mengalami disorientasi.
Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah ketika klien sedang mengalami
nyeri. Pada beberapa daerah atau negara
diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak atau menangis. Tetapi karena perawat memiliki kebiasaan bila merasa nyeri hanya dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan, maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis atau berteriak, maka perawat akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan, atau memintanya berdoa atau malah memarahi pasien karena dianggap telah mengganggu pasien lainnya. Kebutaan budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan.
diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak atau menangis. Tetapi karena perawat memiliki kebiasaan bila merasa nyeri hanya dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan, maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis atau berteriak, maka perawat akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan, atau memintanya berdoa atau malah memarahi pasien karena dianggap telah mengganggu pasien lainnya. Kebutaan budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan.
2.1. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktikkeperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakangbudayanya.
Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan individu sesuai dengan
budaya klien. Strategi yang
digunakan dalam asuhan keperawatan adalah perlindungan/mempertahankan budaya,mengakomodasi/negoasiasi budaya
dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).yang prospeknya terdiri
dari
Ø
Mempertahankan budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila
budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi
keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah
dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status
kesehatannya, misalnya budaya berolahraga setiap pagi
Ø
Negosiasibudaya
Intervensidanimplementasikeperawatan
pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya
tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien agar
dapat memilih dan
menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang lain.
Ø
Restrukturisasibudaya
Restrukturisasibudayakliendilakukan
bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatan. Perawat berupaya
merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok.
Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai
dengan keyakinan yang dianut
2.2. Proses
keperawatan
Model
konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan
keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari
terbit (Sunrise Model). Geisser (1991). menyatakan bahwa
proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan
memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan
asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Ø Pengkajian
Pengkajianadalah
proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai
dengan latar belakang budaya klien. Pengkajian
dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada
"Sunrise Model" yaitu :
1.
Faktorteknologi (tecnological
factors)
Teknologikesehatanmemungkinkanindividu
untuk memilih atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan
kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau
mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien
memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien
tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.
tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.
2.
Faktor agama danfalsafah hidup (religious
and philosophical factors)
Agama adalahsuatusimbol yang
mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para pemeluknya. Agama
memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas
segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji
oleh perawat adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien
terhadap penyebab penyakit, carapengobatandankebiasaan agama
yangberdampakpositifterhadapkesehatan.
3.
Faktorsosialdanketerikatan keluarga
(kinship and social factors)
Perawatpadatahapini harus mengkaji
faktor-faktor : nama lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir,
jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan
hubungan klien dengan kepala keluarga.
4.
Nilai-nilaibudayadangaya hidup
(cultural value and life ways)
Nilai-nilaibudayaadalahsesuatu yang
dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk.
Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas
pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :
posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
5.
Faktorkebijakandanperaturan yang
berlaku (political and legal factors)
Kebijakandanperaturanrumah sakit
yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam
asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji
pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam
berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk
klien yang dirawat
6.
Faktorekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit
memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar
segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya :
pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga,
biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau
patungan antar anggota keluarga
7.
Faktorpendidikan (educational
factors)
Latarbelakangpendidikanklien adalah
pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini.
Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh
buktibukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi
terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji
pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta
kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya
sehingga tidak terulang kembali.
·
Diagnosa keperawatan
Diagnosakeperawatanadalah respon klien sesuai latar belakang
budayanya yang dapatdicegah, diubahataudikurangimelaluiintervensikeperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapattigadiagnose keperawatan yang seringditegakkandalamasuhankeperawatantranscultural yaitu : gangguankomunikasi verbal berhubungandenganperbedaankultur,gangguaninteraksisosialberhubungandisorientasisosiokulturaldanketidakpatuhandalampengobatanberhubungandengansistem nilai yang
diyakini.
Diagnosakeperawatanadalah respon klien sesuai latar belakang
budayanya yang dapatdicegah, diubahataudikurangimelaluiintervensikeperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapattigadiagnose keperawatan yang seringditegakkandalamasuhankeperawatantranscultural yaitu : gangguankomunikasi verbal berhubungandenganperbedaankultur,gangguaninteraksisosialberhubungandisorientasisosiokulturaldanketidakpatuhandalampengobatanberhubungandengansistem nilai yang
diyakini.
·
Perencanaan dan Pelaksanaan
Perencanaandanpelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
Perencanaandanpelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
a. Cultural care preservation/maintenance
1). Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat
2).Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3). Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
1). Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat
2).Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3). Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
b. Cultural careaccomodation/negotiation
1).Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2).Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3).Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana
kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien dan standar etik.
1).Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2).Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3).Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana
kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien dan standar etik.
c. Cultual care repartening/reconstruction
1).Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang
diberikan dan melaksanakannya
2).Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya
kelompok
3).Gunakan pihak ketiga bila perlu
4).Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan
yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
5) .Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
1).Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang
diberikan dan melaksanakannya
2).Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya
kelompok
3).Gunakan pihak ketiga bila perlu
4).Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan
yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
5) .Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
Perawat dan klien harus
mencoba untuk memahami budaya masing- masing melalui
proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi
persamaan dan perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka.
Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidakpercaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akanterganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilanmenciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.
Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidakpercaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akanterganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilanmenciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.
·
Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan,
mengurangibudayaklien yang tidaksesuai dengan kesehatan atau beradaptasidenganbudayabaru
yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien.
Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang
sesuai dengan latar belakang budaya klien.
BAB III
PENUTUP
6.1. KESIMPULAN
Ø
Prospek social budayaterhadap
Keperawatan adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang
difokuskankepadaindividudankelompokuntukmempertahankan,meningkatkanperilakusehatsesuaidenganlatarbelakangbudayadanmenerapakanpelayanankeperawatan
sesuai dengan latar belakang budaya tanpa merugikan kesehatan atau melanggar
prosedur asuhan keperawatan.
Ø
Pengkajianasuhankeperawatandalamkonteks
social budayasangatdiperlukanuntukmenjembataniperbedaanpengetahuan yang
dimiliki oleh perawat dengan klien
Ø
Diagnosakeperawatantranskultural
yang ditegakkandapatmengidentifikasitindakan yang
dibutuhkanuntukmempertahankanbudaya yang sesuaidengankesehatan,
membentukbudayabaru yang sesuaidengankesehatanataubahkanmenggantibudaya yang
tidak sesuai dengan kesehatan dengan budaya baru.
Ø
Perencanaandanpelaksanaan proses
keperawatantranskulturaltidakdapatbegitusajadipaksakankepadakliensebelumperawatmemahamilatarbelakangbudayakliensehinggatindakan
yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien.
Ø
Evaluasiasuhankeperawatantranskulturalmelekateratdenganperencanaandanpelaksanaan
proses asuhankeperawatan transkultural.
6.2.
SARAN
Ø
Penyusunanmakalahinimasih
jauh dari kesempurnaan olehnya itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun sebagai bahan ajar untuk penyusunan berikutnya
DAFTAR PUSTAKA
Cultural
Diversity in Nursing, (1997), Transcultural Nursing ; Basic Concepts and Case
Studies, Ditelusuri tanggal 17 desember 2010”http://www/rnc.org/transculturalnursing”
Leininger. M
& McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts,Theories,
Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill Companies
Understanding
The Theoretical Basis of Transcultural Nursing Care.Ditelusuri tanggal
17desember 2010 dari “http://www./rnc.org/transculturalnursing”
Transcultural
NursingModels ; Theory and Practice, Ditelusuri tanggal 17 september 2006 dari
“http://www./rnc.org/transculturalnursing”
“http://www./rnc.org/transculturalnursing”
0 komentar:
Posting Komentar