Nilai Gizi Hemoroid Berat
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Makalah
Mata Kuliah : Ilmu Gizi
Semester II Tahun Akademik 2014/2015
Dosen
Pengampu : SRI
WAHYUNINGSIH, S.Gz

DISUSUN
OLEH:
RISKA HIDAYATUL PUTRI (7114016)
PRODI D3 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
JOMBANG
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. bahwa
kami telah menyelesaikan tugas mata kuliah Ilmu gizi yang
membahas tentang Nilai Gizi yang di butuhkan Pasien Yang terkena Penyakit
Hemoroid Berat.
Makalah ini kami tulis berdasarkan hasil pencarian
kami dari beberapa sumber serta pemikiran kami sendiri. isi makalah ini mencakup tentang Nilai Kebutuhan Gizi yang diperlukan Pasien
Hemoroid Berat. Makalah ini di harapkan cukup untuk memberikan
pengertian tentang Gizi yang Di Perlukan Pasien
Penderita Hemoroid Berat dan Apa saja makanan yang di anjurkan dan yang tidak
di anjurkan Serta contoh Menunya.
Sudah tentu makalah ini masih jauh dari sempurna dan
juga masih banyak kekurangannya. Maka saran, petunjuk pengang terjadi
dirahan, dan bimbingan dari berbagai pihak sangat kami harapkan.
Semoga makalah ini mendapat Ridho dari Allah SWT, dan
bisa bermanfaat bagi kita semua.khususnya bagi yang membuat dan
umum nya bagi yang membaca makalah ini.
Jombang
28 Mei 20115
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Hemoroid
adalah bagian vena yang berdilatasi dalam anal kanal. Hemoroid sangat umum
terjadi. Pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid
berdasarkan luas vena yan terkena. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita
hamil. Tekanan intra abdomen yang meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan
juga karena adanya perubahan hormon menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis.
Pada kebanyakan wanita, hemoroid yang disebabkan oleh kehamilan merupakan
hemoroid temporer yang berarti akan hilang beberapa waktu setelah melahirkan.
Hemoroid diklasifiksasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal yaitu hemorod
yang terjadi diatas stingfer anal sedangkan yang muncul di luar stingfer anal
disebut hemorod eksternal. (brunner & suddarth, 1996)
Kedua jenis
hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk.
Hemoroid bisa mengenai siapa saja, baik laki-laki maupun wanita. Insiden
penyakit ini akan meningkat sejalan dengan usia dan mencapai puncak pada usia
45-65 tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat
menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman. Berdasarkan hal ini kelompok
tertarik untuk membahas penyakit hemoroid.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Hemoroid ( wasir /ambeien/piles )adalah bagian vena yang berdilatasi dalam
kanal anal. Hemorroid adalah pelebaran pembuluh darah/flexus vena. Hemoroid
berasal dari kata Yunani , haemorrhoides yang berarti darah yang mengalir (haem
= blood, rhoos = flowing). Istilah piles berasal dari kata latin, pila yang
berarti pil atau bola. Jadi memang tepat kedua istilah tersebut, karena selain
ada perdarahan, penyakit ini ditandai dengan adanya / keluarnya benjolan . Di
Indonesia disebut wasir, sedangkan ambeien berasal dari kata Belanda ‘ambeijen’
( diambil dari kata buah arbij).
Hemorroid sangat umum terjadi. Pada usia 50-an, 50% individu mengalami
berbagai tipe hemorroid berdasarkan luasnya vena yang terkena . Sering terjadi
namun kurang diperhatikan kecuali kalau sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan.
Literatur lain menyebutkan bahwa hemorrhoid adalah varices vena eksternal dan /
atau internal dari kanal anus yang disebabkan oleh adanya tekanan pada
vena-vena anorektal. Jika tidak mendapat penanganan maka hemoroid akan semakin
bertambah parah, jarang yang mengalami perbaikan dengan sendirinya karena
biasanya kelainan ini melibatkan secara luas pembuluh darah, jaringan lunak dan
otot-otot anus . Hemoroid dibagi menjadi 2, yaitu hemoroid interna dan
eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena hemoroidalis superior dan
media dan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior.
Sesuai istilah yang digunakan, maka hemoroid eksterna timbul di sebelah luar
otot sfingter ani, dan hemoroid interna timbul di sebelah dalam sfingter.
2.2 Penyebab
Penyebab hemoroid tidak
diketahui, konstipasi kronis dan mengejan saat defekasi mungkin penting.
Mengejan menyebabkan pembesaran dan prolapsus sekunder bantalan pembuluhdarah
hemoroidalis. Jika mengejan terus menerus, pembuluh darah menjadi berdilatasi
secara progresif dan jaringan sub mukosa kehilangan perlekatan normalnya dengan
sfingter internaldi bawahnya, yang menyebabkan prolapsus hemoroid yang klasik
dan berdarah. Selain itufaktor penyebab hemoroid yang lain yaitu : kehamilan,
obesitas, diet rendah serat dan aliran balik venosa.
Faktor Resiko hemoroid :
1. Keturunan à Dinding pembuluh darah yang lemah dan tipis
2. Anatomic àVena darah anorektal tidak mempunyai katup dan plexus
hemorhoidalis kurang mendapat sokongan otot dan fasi sekitarnya
3. Pekerjaan à Orang yang harus berdiri dan duduk lama atau harus
mengangkat barang berat, memounyai predisposisi untuk hemoroid
4. Umur à Pada umur tua timbul digenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga
otot sfingter menjadi tipis dan atonis
5. Endokrin à Misalnya pada wanita hamil ada dilatasi vena ekstermitas dan
anus (sekresi hormon kelaksin)
6. Mekanis à Semua keadaan yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang
meninggi dalam rongga perut. Misalnya penderita hipertrofi prostat
7. Fisiologis à Bendungan pada peredaran darah portal misalnya pada penderita
dekompensiasio hordis atau sikrosis hepatis
8. Radang à Adalah faktpr penting yang menyebabkan fitalitas jaringan di
daerah itu berkurang
2.3 Patofisiologi
Distensi vena awalnya merupakan struktur yang normal pada daerah anus,
karena vena vena ini berfungsi sebagai katup yang dapat membantu menahan beban,
namun bila distensi terjadi terus menerus akan timbul gangguan.
Salah satu faktor predisposisi yang dapat menimbulkan distensi vena adalah
peningkatan tekanan intra abdominal. Kondisi ini menyebabkan peningkatan
tekanan vena porta dan tekanan vena sistemik, yang kemudian akan ditransmisi ke
daerah anorektal. Elevasi tekanan yang berulang-ulang akan mendorong vena
terpisah dari otot disekitarnya sehingga vena mengalami prolaps. Keadaan yang dapat
menyebabkan terjadinya elevasi yang berulang antara lain adalah obstipasi /
konstipasi, kehamilan dan hipertensi portal. Hemorrhoid dapat menjadi prolaps,
berkembang menjadi trombus atau terjadi
perdarahan.
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik
dari vena hemoroidalis. Penyakit hati kronik yang disertai hipertensi portal
sering mengakibatkan hemoroid karena vena hemoroidalis superior mengalirkan
darah ke dalam sistem portal. Selain itu sistem portal tidak mempunyai katup
sehingga mudah terjadi aliran balik.
2.4 Tanda dan Gejala
HEMOROID INTERNA
Gejala - gejala dari hemoroid interna adalah pendarahan tanpa rasa sakit
karena tidak adanya serabut serabut rasa sakit di daerah ini.
Hemoriud interna terbagi menjadi 4 derajat :
* Derajat I
Timbul pendarahan varises, prolapsi / tonjolan mokosa tidak melalui anus
dan hanya dapat di temukan dengan proktoskopi.
* Derajat II
Terdapat trombus di dalam varises sehingga varises selalu keluar pada saat
depikasi, tapi seterlah depikasi selesai, tonjolan tersebut dapat masuk dengan
sendirinya.
* Derajat III
Keadaan dimana varises yang keluar tidak dapat masuk lagi dengan sendirinya
tetapi harus di dorong.
* Derajat IV
Suatu saat ada timbul keaadan akut dimana varises yang keluar pada saat
defikasi tidak dapat di masukan lagi. Biasanya pada derajat ini timbul trombus
yang di ikuti infeksidan kadang kadang timbul perlingkaran anus, sering di
sebut dengan Hemoral Inkaresata karena seakan - akan ada yang menyempit
hemoriod yang keluar itu, padahal pendapat ini salah karena muskulus spingter
ani eksternus mempunyai tonus yang tidak berbeda banyak pada saat membuka dan
menutup. Tapi bila benar terjadi. Inkaserata maka setelah beberapa saat akan
timbul nekrosis tapi tidak demikiaan halnya. Lebih tepat bila di sebut dengan
perolaps hemoroid.
HEMOROID EKSTERNA
Hemoroid eksrterna jarang sekali berdiri sendiri, biasanya perluasan
hemoroid interna.
Tapi hemoroid eksterna dapat di klasifikasikan menjadi 2 yaitu :
1. Akut
Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan
sebenarnya adalah hematom, walaupun disebut sebagai trombus eksterna akut.
Tanda dan gejala yang sering
timbul adalah:
* Sering rasa sakit dan nyeri
* Rasa gatal pada daerah hemorid
Kedua tanda dan gejala tersebut disebabkan karena ujung – ujung saraf pada
kulit merupakan reseptor rasa sakit.
2. Kronik
Hemoroid eksterna kronik atau “Skin Tag” terdiri atas satu lipatan atau
lebih dari kulit anus yang berupa jaringan penyambung dan sedikit pembuluh
darah.
2.5 Akibat
· Terjadinya perdarahan
Pada derajat satu darah kelur menetes dan memancar.
· Terjadi trombosis
Karena hemoroid keluar sehinga lama - lama darah akan membeku dan terjadi
trombosis.
· Peradangan
Kalau terjadi lecet karena tekanan vena hemoroid dapat terjadi infeksi dan
meradang karenadisana banyak kotoran yang ada kuman – kumannya.
2.6 Penanganan
Penanganan hemoroid dengan diet tinggi serat
Tujuan diet serat tinggi adalah untuk memberi makanan sesuai dengan
kebutuhan gizi sehingga dapat merangsang
peristaltik usus agar defekasi dapat berjalan normal sehingga dapat mencegah
obstipasi, hemoroid, dan diverticulosis.
Syarat-syarat diet tinggi serat
· Energi cukup sesuai dengan
umur , gender, dan aktivitas.
· Karbohidrat
· Protein
· Lemak cukup
· Vitamin dan mineral tinggi
terutama vitamin B untuk membantu memperkuat saluran otot cerna.
· Cairan tinggi untuk
memperlancar defekasi, pemberian minum sebelum makan akan membantu merangsang
peristaltic usus.
Serat tinggi yang diberikan sebaiknya berasal dari :
· Serat larut air yang
berasal dari beras tumbuk, beras merah, roti gandum, kacang-kacangan, sayuran
dan buah.
· Kacang-kacangan yang
dianjurkan : kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijau, serta olahan kacang
seperti tahu dan tempe.
· Beberapa sayuran yang
tinggi serat diantaranya adalah daun singkong, daun papaya, daun kacang
panjang, brokoli, jagung muda, oyong, pare, buncis, kacang panjang, dan
ketimun.
· Buah-buahan yang berserat
tinggi diantaranya adalah jeruk, nanas, manga, salak, pisang, pepaya, sirsak,
serta buah yang dimakan dengan kulitnya seperti apel, anggur, belimbing, dan
jambu biji.
Direkomendasikan untuk mengkonsumsi serat tidak larut sebanyak 25-30 gram
per hari.
2.7 Contoh
kasus
Dalam kasus
ini, pasien didiagnosa menderita Hemoroid
Identitas
Pasien
Nama Pasien :
Tn. Toni
Jenis kelamin :
Laki - laki
Usia :
52 tahun
BB :
67 Kg
TB : 167
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Data penunjang lain
.
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Px
MRS dengan Hemoroid berat, BAB mengeluarkan darah
b. Riwayat Penyakit
Dahulu
Sering
Konstipasi dan hemoroid
1. Tentukan status gizinya
2. .
Hitunglah
a.
Kebutuhan energi, protein, lemak, dan karbohidrat
b. Jelaskan
penatalaksaan Dietnya (Syarat, Tujuan, Prinsip dan contoh menu dan bentuk makanannya)
jawaban.
IMT = BERAT badan (Kg)
TinggiBadan (meter)²
=67
(1,67)²
=40,119760
Status Gizinya
Ø
Rumus: BEE =66,5+13,5(wt)+5(ht-6,78) (A)
=66,5 +
13,5 (67) +5(167-6,78) (52)
=1453,44
Ø Aktivitas: karena riwayat penyakit Tn.T saat ini
adalah hemoroid berat dan mengakibatkan Tn.T harus MRS maka aktivitas yg
dilakukan Tn.T adalah Badrais (1,2).
Ø Sakit : 1453,44 x 1,2 =1744,128 Kalori
Ø Protein: 1744,128 x 15% =261,6192 Kalori
P= 261,6192 : 4 =65,4048 g
Ø Lemak: 1744,128 x 25% =436,032 Kalori
L=436,032 : 9 = 48,448 g
Ø Karbohidrat: 1744,128 x 60% =1046,476 Kalori
K=
1046,476 : 4 = 261,619 g
Penata laksanaan Diet nya :
o
Syarat diet nya
1.Energi cukup
2.Protein cukup yaitu
10-15%
3.Lemak sedang yaitu
10-25%
4.Karbohidrat cukup
5.Menghindari makanan
berserat tinggi (Asupan serat maksimal 8g/hari)
6.Menghindari susu,
produk susu, dan daging berserat kasar sesuai dengan toleransi perorangan.
7. Menghindari makanan yang terlalu berlemak, terlalu manis,
terlalu asam, dan berbumbu tajam
8. Makanan dimasak hingga
lunak
9. Porsi kecil tapi
sering
10. Jangka waktu lama
ditambah suplemen vitamin dan mineral.
o
Tujuan Diet yaitu
Untuk memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi yang sedikit mungkin meninggalkan
sisa sehingga dapat membatasi volume feses dan tidak merangsang saluran cerna.
o
Prinsip Dietnya
Diberikan kepada
pasien dengan :
- Diare
berat
- Peradangan saluran cerna akut
- Divertikulitis akut
- Obstipasi spastik
- Penyumbatan sebagian saluran cerna
- Hemoroid berat
- Pra dan Pasca bedah saluran cerna
o
Contoh menu
- PAGI SIANG
- Roti bakar Nasi
Tim
- Orak arik telur semur
daging giling+tahu
- susu Tumis
labu siam
Pepaya
MALAM
Nasi tim
Sup bola2 ayam
Tim tahu
setup wortel
& buah pepaya
o
Bentuk makanannya
- Diet ini rendah energi dan sebagian zat gizi
- Makanan diberikan dalam bentuk disaring atau
diblender
- Makanan ini menghindari makanan berserat
tinggi dan sedang, bumbu yang tajam, susu, daging berserat kasar/liat
- Membatasi penggunaan gula dan lemak
- Kandungan serat maksimal 4 gram
Tn.T karena riwayat
penyakit nya sekarang adalah Hemoroid Berad dan jika BAB mengeluarkan darah
jadi Tn.T ini harus dikasi diet Rendah Sisa.
Pengertian Diet Rendah
sisa.
Ø
Diet Rendah
Sisa adalah makanan yang terdiri terdiri
dari bahan makanan rendah serat dan hanya sedikit meninggalkan sisa.
Ø
Yang dimaksud
dengan sisa adalah bagian2 makanan yang tidak diserap seperti yang terdapat
dalam susu dan produk susu serta serat daging yang berserat kasar/liat.
Ø
Disamping itu
makanan lain yang merangsang saluran
cerna harus dibatasi.
Diet Rendah Sisa ini
ada dua macam yaitu :
1. Diet Rendah Sisa I
2. Diet Rendah Sisa II
Rata’’ nilai diet
Rendah Sisa 1 adalah:
•
Energi : 1441 kkal
•
Protein : 40
g
•
Lemak : 58
g
•
KH : 188 g
•
Kalsium :
100 mg
•
Besi :
6,5 mg
•
Vit C : 118
mg
•
Serat :
1,5 mg
Rata’’ nilai diet
Rendah Sisa 2 adalah:
•
Energi : 1750 kkal
•
Protein : 61
g
•
Lemak : 60
g
•
KH : 281 g
•
Kalsium :
800 mg
•
Besi :
16 mg
•
Vit C : 117
mg
•
Serat :
6,3 mg
Tn.T nilai Kebutuhan gizi
nya saat ini adalah :
v Energi : 1744,128 kkal
v Protein : 65,4048 g
v Karbohidrat : 261,619 g
v Lemak : 48,448 g
Karena Tn.T Nilai Kebutuhan Gizi nya Mendekati
dengan Nilai Diet Rendah Sisa 2 , maka Tn.T diberi Diet Rendah Sisa 2.
Bahan makanan yang di anjurkan Untuk Tn.T
adalah :
v
Bubur/nasi
tim, roti bakar, kentang rebus, mi, bihun direbus, krakers, tepung2an
dipuding/dibubur
v
Daging empuk,
hati ayam, ikan direbus,ditumis,diungkep,dipanggang, telur rebus/ceplok air.
v
Tahu, tempe
ditim dan direbus, ditumis, susu kedelai
v
Sayuran
berserat rendah : kacang panjang, buncis,bayam labu siam,wortel rebus, tomat
masak.
v
Buah2an :
Semua sari buah, Buah segar yg matang (tanpa kulit dan biji) dan tidak
menimbulkan gas, seperti : Pepaya, pisang, jeruk, Avokad dan Nanas.
v
Lemak :
Margarin, mentega dan minyak dlm jumlah terbatas untuk menumis, mengoles dan
setup.
v
Minuman : teh
encer, kopi, sirup
v
Bumbu : Garam, gula, cuka, salam, laos, kunyit,
kunci, dlm jumlah terbatas.
Bahan Makanan yang
tidak Di anjurkan Untuk Tn.T adalah:
•
Buah2an :
Semua sari buah, Buah segar yg matang (tanpa kulit dan biji) dan tidak
menimbulkan gas, seperti : Pepaya, pisang, jeruk, Avokad dan Nanas.
•
Lemak :
Margarin, mentega dan minyak dlm jumlah terbatas untuk menumis, mengoles dan
setup.
•
Minuman : teh
encer, kopi, sirup
•
Bumbu : Garam, gula, cuka, salam, laos, kunyit,
kunci, dlm jumlah terbatas.
•
Buah-buahan
:.Buah yang dimakan dengan kulit, seperti apel, jambu biji, dan pir serta jeruk
yang dimakan dg kulit ari. Buah yang menimbulkan gas seperti durian, dan nangka
•
Lemak :
Minyak untuk menggoreng, lemak hewani, kelapa dan santan.
•
Miuman :
Kopi, teh kental, minuman yg mengandung soda dan alkohol.
•
Bumbu : Cabe
dan merica.
Contoh Menu Tn.T
adalah:
PAGI SIANG
Roti bakar Nasi Tim
Orak arik telur semur daging giling+tahu
susu Tumis labu siam
Pepaya
MALAM
Nasi tim
Sup bola2 ayam
Tim tahu
setup wortel & buah pepaya
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat
disimpulkan sebagai berikut :
· Hemoroid adalah adalah bagian vena
yang berdilatasi dalam kanal anal. Hemorroid adalah pelebaran pembuluh
darah/flexus vena. Hemoroid berasal dari kata Yunani , haemorrhoides yang
berarti darah yang mengalir (haem = blood, rhoos = flowing). Istilah piles
berasal dari kata latin, pila yang berarti pil atau bola. Jadi memang tepat
kedua istilah tersebut, karena selain ada perdarahan, penyakit ini ditandai
dengan adanya / keluarnya benjolan .
· Faktor Resiko hemoroid :
Keturunan, anatomic,
pekerjaan, umur, endokrin, mekanis, fisiologis, radang.
· Pada dasarnya hemoroid di bagi menjadi dua
klasipikasi, yaitu :
1. Hemoroid interna à merupakan varises
vena hemoroidalis superior dan media
2. Hemoroid eksterna à merupakan
varises vena hemoroidalis inferior.
· Hemoriud interna terbagi menjadi 4
derajat :
* Derajat I
* Derajat II
* Derajat III
* Derajat IV
· Hemoroid eksterna dapat di
klasifikasikan menjadi 2 yaitu :
1. Akut
2. Kronik
· Penanganan Hemoroid bias dilakukan
dengan diet tinggi serat.
v Dari contoh kasus di atas Nilai Gizi Tn.T harus di
berikan Diet Rendah Serat 2.
3.2 Saran
Perlu penyuluhan yang intensif tentang
penyakit, proses penyakit dan pengobatannya pada penderita hemoroid.
Menginformasikan tentang pencegahan-pencegahan terjadinya hemoroid dengan cara
:
1. Makan makanan tinggi
serat, vitamin K, dan vitamin B12.
2. Sarankan untuk tidak
banyak duduk atau kegiatan yang menenkan daerah bokong.
3. Sarankan untuk tidak
terlalu kuat saat mengedan karena dapat menambah besar hemoroid.
4. Sarankan agar
mengurangi makan makanan pedas yang dapat mengiritasi hemoroid.
5. Sarankan untuk
melakukan hemoroidektomi apabila stadium hemoroid telah mencapai derajat III
hemoroid interna untuk mencegah terjadinya infeksi.
Arkanda, Sumitro. 1989.
Ringkasan Ilmu Bedah. Jakarta: PT. Bina Aksara.
Brunner & Suddarth.
2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 2. Jakarta: EGC.
Djuhari,Widjajakusumah.
2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Doenges (2001). Rencana
Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC
Jusi, H. D. 1991.
Dasar-Dasar Ilmu Bedah Vaskuler. Jakarta: Balai Penerbit.
Lauralee,Sherwood. 2001.
Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC
Parakrama,Chandrasoma.
2006. Ringkasan Patofisiologi Anatomi Edisi 2. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia Anderson.
1984. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta: EGC.
Robbins, Stanley L. 1989.
Buku Saku Dasar Patologi Penyakit. Jakarta: EGC
Schrock, Theodore R.
1991. Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Sjamsuhidajat, R. Wim de
Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.
Diposkan oleh Candra
Wijayanti di 23.19
0 komentar:
Posting Komentar