MAKALAH ANTROPOLOGI
(MASALAH-MASALAH SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MASYARAKAT, UTAMANYA DI BIDANG KEPERAWATAN)

Description: unipdu.jpg

DI SUSUN OLEH:


1.   RISKA HIDAYATUL P

UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
PETERONGAN JOMBANG
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. bahwa kami telah menyelesaikan tugas mata kuliah antropologi dengan membahas masalah sosial budaya yang mempengaruhi kesehatan masyarakat utamanya dslam bidang keperawatan
Makalah ini kami tulis berdasarkan hasil pencarian kami dari beberapa sumber. isi makalah ini mencakup tentang  masalah-masalah sosial budaya yang terjadi di dlam masyarakat Makalah ini di harapkan cukup untuk memberikan pengertian tentang aspek social budaya yang mempengaruhi perilaku kesehatan dalam masyarakat.
Sudah tentu makalah ini masih jauh dari sempurna dan juga masih banyak kekurangannya. Maka saran, petunjuk  pengang terjadi dirahan, dan bimbingan dari berbagai pihak sangat kami harapkan.
Semoga makalah ini mendapat Ridho dari Allah SWT, dan bisa bermanfaat bagi kita semua.







Jombang 20 april 20115


Penyusun









BAB IPENDAHULUAN
1.1.  LATAR BELAKANG
1.2.  TUJUAN
BAB IIPEMABAHASAN
2.1.  Keperawatan
2.2.  Proses keperawatan
BAB IIIPENUTUP
3.1.  KESIMPULAN
3.2.  SARAN
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

2.3.  LATAR BELAKANG
Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran dan / atau kesehatan dalam kegiatan, program kesehatan harus mengutamakan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.  Kegiatan, proyek dan program kesehatan diselenggarakan agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat.  Kegiatan, proyek dan program kesehatan diselenggarakan dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan standar profesi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh kebutuhan dan kondisi spesifik daerah.
Prospek perawat profesional di masa depan sangat ditentukan oleh banyak faktor, mulai faktor keadaan kestabilan sosial-ekonomi-politik di Indonesia dan faktor internal pada diri perawat sendiri.
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang mempengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain. Definisi yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan. Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek. Golongan masyarakat yang dianggap 'teranaktirikan' dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil dan pedagang. Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri.
Menjadi seorang tenaga kesehatan (perawat) bukanlah hal yang mudah. Seorang perawat harus siap fisik maupun mental, karena tugas seorang perawat sangatlah berat. Di Indonesia ini jumlah perawat memang tidak sedikit, tetapi untuk di pelosok daerah masih banyak masyarakat yang belum paham akan arti dari profesi tenaga medis. perawat yang siap mengabdi di kawasan pedesaan, artinya ia juga harus siap dengan konsekuensi yang akan terjadi. Tak mudah mengubah pola pikir ataupun kebiasaan masyarakat. Apalagi, masalah proses pertolongan atau penyembuhan. Kehadiran tenaga medis dengan spesialisasi melayani  masyarakat  di beberapa daerah terpencil  merupakan hal yang baru dan tidak mudah ubtuk beradtasi dengan budaya dan kebiasaan masyarakat.
Setiap individu, keluarga dan masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sehingga dapat mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.  Kesempatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas, terjangkau dan tepat waktu tidak boleh memandang perbedaan ras, golongan, agama dan status sosial ekonomi seorang individu, keluarga atau sekelompok masyarakat. 
Pembangunan kesehatan yang cenderung urban-based harus terus diimbangi dengan upaya-upaya pelayanan kesehatan yang bersifat rujukan, bersifat luar gedung maupun yang bersifat satelit pelayanan.  Dengan demikian, pembangunan kesehatan dapat menjangkau kantong-kantong penduduk risiko tinggi yang merupakan penyumbang terbesar kejadian sakit dan kematian.  Kelompok-kelompok penduduk inilah yang sesungguhnya lebih membutuhkan pertolongan karena selain lebih rentan terhadap penyakit, kemampuan membayar mereka jauh lebih sedikit.
2.4.  TUJUAN
·         Mengetahuitentanggambaranprospek social budaya terhadap pelayanan kesehatan khusunya keperawatan
·         Mengetahuipengaruh social budaya terhadap penerapan pelayanan kesehatan khususnya keperawatan
·         Mengetahuidamapak- dampakdari social budaya dalam penerapan pelayanan kesehatan
·         Sebagaibahan ajar dan penambahan pengetahuan tentang gambaran prospek social budaya dalam pelayanan kesehatan.














BAB II
PEMABAHASAN

Prospek pengembangan pelayanan kesehatan yang berdasarkan pada perkembangan social buadaya  khusunya keperawat sangat cerah pada masa mendatang ditinjau dari kekayaan budaya di indonesia. Namun dapat menimbulkan masalah dalam penerapan pelayanan kesehatan ketika budaya tidak sesuai dengan penerapan asuahan keperawatn. Antara faktor penyokongnya tersedianya sumber kekayaan alam Indonesia dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia, sejarah pengobatan tradisional yang telah dikenal lama oleh nenek moyang dan diamalkan secara turun temurun sehingga menjadi warisan budaya bangsa, isu global “back to nature” sehingga meningkatkan pasar produk herbal termasuk Indonesia, krisis moneter menyebabkan pengobatan tradisional menjadi pilihan utama bagi sebagian besar masyarakat dan kebijakan pemerintah.
Social budaya  erat kaitannya dengan pendekatan ilmu antropoligi yaitu Kata Antropologi berasal dari bahasa Yunani, anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos berarti pikiran atau ilmu. Secara sederhana, Antropologi dapat dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari manusia. Tentunya kita akan semakin bertanya-tanya, begitu banyak ilmu yang mempelajari manusia.
Menurut William A. Haviland, seorang antropologi Amerika, Antropologi adalah ilrnu pengetahuan yang mempelajari keanekaragaman manusia dan kebudayaannya. Dengan mempelajari kedua hal tersebut, Antropologi adalah studi yang berusaha menjelaskan tentang berbagai macam bentuk perbedaan dan persamaan dalam aneka ragam kebudayaan manusia.
 berusaha mencapai sebuah pemahaman tentang manusia secara fisik, manusia dalam masyarakatnya, dan manusia dengan kebudayaannya. Secara praktis, Antropologi berusaha membangun suatu pandangan bahwa perbedaan manusia dan kebudayaannya merupakan suatu hal yang harus dapat diterima, bukan sebagai sumber konflik tetapi sebagai sumber pemahaman baru, agar secara terus-menerus manusia dapat merefleksikan dirinya. Secara praktis, kajian ilmu Antropologi dapat digunakan untuk membangun masyarakat dan kebudayaannya tanpa harus membuat masyarakat dan kebudayaan itu, kehilangan identitas atau tersingkir dari peradaban.
Dengan demikian jelas bahwa prospek social budaya dalam pelayanan kesehatan khususnya keperawatan adalah untuk menerapkan pendekatan antropologi yang berorintasi pada keaneka ragaman budaya baik antar budaya maupaun lintas budaya terhadap asuhan keperawatan yang tidak membedakan perbedaan budaya dan melaksanakan sesuai dengan hati nurari dan sesuai dengan standar penerapan tanpa membedakan suku, ras, budaya, dan lain-lian
Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada abad ke-21, termasuk tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin besar. Dengan adanya globalisasi, dimana perpindahan penduduk antar negara (imigrasi) dimungkinkan, menyebabkan adaya pergeseran terhadap tuntutan asuhan keperawatan.
Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat, yang dapat dikembangkan serta dapat diaplikasikan dalam praktek keperawatan. Perkembangan teori keperawatan terbagi menjadi 4 level perkembangan yaitu metha theory, grand theory, midle range theory dan practice theory.Salah satu teori yang diungkapkan pada midle range theory adalah TransculturalNursing Theory. Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep. keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock.
Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan danbeberapa mengalami disorientasi. Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah ketika klien sedang mengalami nyeri. Pada beberapa daerah atau negara
diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak atau menangis. Tetapi karena perawat memiliki kebiasaan bila merasa nyeri hanya dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan, maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis atau berteriak, maka perawat akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan, atau memintanya berdoa atau malah memarahi pasien karena dianggap telah mengganggu pasien lainnya. Kebutaan budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan.
2.1.  Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktikkeperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakangbudayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan adalah perlindungan/mempertahankan budaya,mengakomodasi/negoasiasi budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).yang prospeknya terdiri dari
Ø  Mempertahankan budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya, misalnya budaya berolahraga setiap pagi
Ø  Negosiasibudaya
Intervensidanimplementasikeperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang lain.
Ø  Restrukturisasibudaya
Restrukturisasibudayakliendilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang dianut
2.2.  Proses keperawatan
Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (Sunrise Model). Geisser (1991). menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Ø  Pengkajian
Pengkajianadalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien. Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada "Sunrise Model" yaitu :
1.        Faktorteknologi (tecnological factors)
Teknologikesehatanmemungkinkanindividu untuk memilih atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien
tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.
2.        Faktor agama danfalsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalahsuatusimbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, carapengobatandankebiasaan agama yangberdampakpositifterhadapkesehatan.
3.        Faktorsosialdanketerikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawatpadatahapini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga.
4.        Nilai-nilaibudayadangaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilaibudayaadalahsesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :
posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
5.        Faktorkebijakandanperaturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakandanperaturanrumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat
6.        Faktorekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga
7.        Faktorpendidikan (educational factors)
Latarbelakangpendidikanklien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
·           Diagnosa keperawatan
Diagnosakeperawatanadalah respon klien sesuai latar belakang
budayanya yang dapatdicegah, diubahataudikurangimelaluiintervensikeperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapattigadiagnose keperawatan yang seringditegakkandalamasuhankeperawatantranscultural yaitu : gangguankomunikasi verbal berhubungandenganperbedaankultur,gangguaninteraksisosialberhubungandisorientasisosiokulturaldanketidakpatuhandalampengobatanberhubungandengansistem nilai yang
diyakini.
·            Perencanaan dan Pelaksanaan
Perencanaandanpelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
a.      Cultural care preservation/maintenance
1). Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat 
2).Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
3). Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
b.        Cultural careaccomodation/negotiation
1).Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
2).Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3).Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana
     kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien  dan standar etik.
c.         Cultual care repartening/reconstruction
1).Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang
   diberikan dan melaksanakannya
2).Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya
    kelompok
3).Gunakan pihak ketiga bila perlu
4).Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan
    yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
5) .Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
         Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya masing-     masing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka.
Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidakpercaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akanterganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilanmenciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.
·             Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangibudayaklien yang tidaksesuai dengan kesehatan atau beradaptasidenganbudayabaru yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.




BAB III
PENUTUP
6.1.  KESIMPULAN
Ø  Prospek social budayaterhadap Keperawatan adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang difokuskankepadaindividudankelompokuntukmempertahankan,meningkatkanperilakusehatsesuaidenganlatarbelakangbudayadanmenerapakanpelayanankeperawatan sesuai dengan latar belakang budaya tanpa merugikan kesehatan atau melanggar prosedur asuhan keperawatan.
Ø  Pengkajianasuhankeperawatandalamkonteks social budayasangatdiperlukanuntukmenjembataniperbedaanpengetahuan yang dimiliki oleh perawat dengan klien
Ø  Diagnosakeperawatantranskultural yang ditegakkandapatmengidentifikasitindakan yang dibutuhkanuntukmempertahankanbudaya yang sesuaidengankesehatan, membentukbudayabaru yang sesuaidengankesehatanataubahkanmenggantibudaya yang tidak sesuai dengan kesehatan dengan budaya baru.
Ø  Perencanaandanpelaksanaan proses keperawatantranskulturaltidakdapatbegitusajadipaksakankepadakliensebelumperawatmemahamilatarbelakangbudayakliensehinggatindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien.
Ø  Evaluasiasuhankeperawatantranskulturalmelekateratdenganperencanaandanpelaksanaan proses asuhankeperawatan transkultural.
6.2.  SARAN
Ø  Penyusunanmakalahinimasih jauh dari kesempurnaan olehnya itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai bahan ajar untuk penyusunan berikutnya





DAFTAR PUSTAKA

Cultural Diversity in Nursing, (1997), Transcultural Nursing ; Basic Concepts and Case Studies, Ditelusuri tanggal 17 desember 2010”http://www/rnc.org/transculturalnursing”
Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts,Theories, Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill Companies
Understanding The Theoretical Basis of Transcultural Nursing Care.Ditelusuri tanggal 17desember 2010 dari “http://www./rnc.org/transculturalnursing”
Transcultural NursingModels ; Theory and Practice, Ditelusuri tanggal 17 september 2006 dari
“
http://www./rnc.org/transculturalnursing”

http://www./rnc.org/sosialbudaya dan proyeksinya”

Nilai Gizi Px Hemoroid Berat

Nilai Gizi Hemoroid Berat
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Makalah
Mata Kuliah : Ilmu Gizi
Semester II Tahun Akademik 2014/2015
Dosen Pengampu : SRI WAHYUNINGSIH, S.Gz




Description: unipdu.jpg



DISUSUN OLEH:


        RISKA HIDAYATUL PUTRI (7114016)






PRODI D3 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
JOMBANG

DAFTAR ISI




























 





KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. bahwa kami telah menyelesaikan tugas mata kuliah Ilmu gizi yang membahas tentang Nilai Gizi yang di butuhkan Pasien Yang terkena Penyakit Hemoroid Berat.
Makalah ini kami tulis berdasarkan hasil pencarian kami dari beberapa sumber serta pemikiran kami sendiri. isi makalah ini mencakup tentang  Nilai Kebutuhan Gizi yang diperlukan Pasien Hemoroid Berat. Makalah ini di harapkan cukup untuk memberikan pengertian tentang Gizi yang Di Perlukan Pasien Penderita Hemoroid Berat dan Apa saja makanan yang di anjurkan dan yang tidak di anjurkan Serta contoh Menunya.
Sudah tentu makalah ini masih jauh dari sempurna dan juga masih banyak kekurangannya. Maka saran, petunjuk  pengang terjadi dirahan, dan bimbingan dari berbagai pihak sangat kami harapkan.
Semoga makalah ini mendapat Ridho dari Allah SWT, dan bisa bermanfaat bagi kita semua.khususnya bagi yang membuat dan umum nya bagi yang membaca makalah ini.







Jombang 28 Mei 20115


Penyusun















BAB I
PENDAHULUAN


1.1        Latar Belakang
Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam anal kanal. Hemoroid sangat umum terjadi. Pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luas vena yan terkena. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil. Tekanan intra abdomen yang meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena adanya perubahan hormon menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis. Pada kebanyakan wanita, hemoroid yang disebabkan oleh kehamilan merupakan hemoroid temporer yang berarti akan hilang beberapa waktu setelah melahirkan. Hemoroid diklasifiksasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal yaitu hemorod yang terjadi diatas stingfer anal sedangkan yang muncul di luar stingfer anal disebut hemorod eksternal. (brunner & suddarth, 1996)
Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk. Hemoroid bisa mengenai siapa saja, baik laki-laki maupun wanita. Insiden penyakit ini akan meningkat sejalan dengan usia dan mencapai puncak pada usia 45-65 tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman. Berdasarkan hal ini kelompok tertarik untuk membahas penyakit hemoroid.


















BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian
Hemoroid ( wasir /ambeien/piles )adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal. Hemorroid adalah pelebaran pembuluh darah/flexus vena. Hemoroid berasal dari kata Yunani , haemorrhoides yang berarti darah yang mengalir (haem = blood, rhoos = flowing). Istilah piles berasal dari kata latin, pila yang berarti pil atau bola. Jadi memang tepat kedua istilah tersebut, karena selain ada perdarahan, penyakit ini ditandai dengan adanya / keluarnya benjolan . Di Indonesia disebut wasir, sedangkan ambeien berasal dari kata Belanda ‘ambeijen’ ( diambil dari kata buah arbij).
Hemorroid sangat umum terjadi. Pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemorroid berdasarkan luasnya vena yang terkena . Sering terjadi namun kurang diperhatikan kecuali kalau sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan. Literatur lain menyebutkan bahwa hemorrhoid adalah varices vena eksternal dan / atau internal dari kanal anus yang disebabkan oleh adanya tekanan pada vena-vena anorektal. Jika tidak mendapat penanganan maka hemoroid akan semakin bertambah parah, jarang yang mengalami perbaikan dengan sendirinya karena biasanya kelainan ini melibatkan secara luas pembuluh darah, jaringan lunak dan otot-otot anus . Hemoroid dibagi menjadi 2, yaitu hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media dan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior. Sesuai istilah yang digunakan, maka hemoroid eksterna timbul di sebelah luar otot sfingter ani, dan hemoroid interna timbul di sebelah dalam sfingter.



2.2    Penyebab
         Penyebab hemoroid tidak diketahui, konstipasi kronis dan mengejan saat defekasi mungkin penting. Mengejan menyebabkan pembesaran dan prolapsus sekunder bantalan pembuluhdarah hemoroidalis. Jika mengejan terus menerus, pembuluh darah menjadi berdilatasi secara progresif dan jaringan sub mukosa kehilangan perlekatan normalnya dengan sfingter internaldi bawahnya, yang menyebabkan prolapsus hemoroid yang klasik dan berdarah. Selain itufaktor penyebab hemoroid yang lain yaitu : kehamilan, obesitas, diet rendah serat dan aliran balik venosa.
         Faktor Resiko hemoroid :
1. Keturunan à Dinding pembuluh darah yang lemah dan tipis
2. Anatomic àVena darah anorektal tidak mempunyai katup dan plexus hemorhoidalis kurang mendapat sokongan otot dan fasi sekitarnya
3. Pekerjaan à Orang yang harus berdiri dan duduk lama atau harus mengangkat barang berat, memounyai predisposisi untuk hemoroid
4. Umur à Pada umur tua timbul digenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga otot sfingter menjadi tipis dan atonis
5. Endokrin à Misalnya pada wanita hamil ada dilatasi vena ekstermitas dan anus (sekresi hormon kelaksin)
6. Mekanis à Semua keadaan yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang meninggi dalam rongga perut. Misalnya penderita hipertrofi prostat
7. Fisiologis à Bendungan pada peredaran darah portal misalnya pada penderita dekompensiasio hordis atau sikrosis hepatis
8. Radang à Adalah faktpr penting yang menyebabkan fitalitas jaringan di daerah itu berkurang

2.3    Patofisiologi
Distensi vena awalnya merupakan struktur yang normal pada daerah anus, karena vena vena ini berfungsi sebagai katup yang dapat membantu menahan beban, namun bila distensi terjadi terus menerus akan timbul gangguan.
Salah satu faktor predisposisi yang dapat menimbulkan distensi vena adalah peningkatan tekanan intra abdominal. Kondisi ini menyebabkan peningkatan tekanan vena porta dan tekanan vena sistemik, yang kemudian akan ditransmisi ke daerah anorektal. Elevasi tekanan yang berulang-ulang akan mendorong vena terpisah dari otot disekitarnya sehingga vena mengalami prolaps. Keadaan yang dapat menyebabkan terjadinya elevasi yang berulang antara lain adalah obstipasi / konstipasi, kehamilan dan hipertensi portal. Hemorrhoid dapat menjadi prolaps, berkembang menjadi trombus atau terjadi  perdarahan.
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Penyakit hati kronik yang disertai hipertensi portal sering mengakibatkan hemoroid karena vena hemoroidalis superior mengalirkan darah ke dalam sistem portal. Selain itu sistem portal tidak mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik.

2.4    Tanda dan Gejala
HEMOROID INTERNA
Gejala - gejala dari hemoroid interna adalah pendarahan tanpa rasa sakit karena tidak adanya serabut serabut rasa sakit di daerah ini.
Hemoriud interna terbagi menjadi 4 derajat :
             *   Derajat I
Timbul pendarahan varises, prolapsi / tonjolan mokosa tidak melalui anus dan hanya dapat di temukan dengan proktoskopi.
            *   Derajat II
Terdapat trombus di dalam varises sehingga varises selalu keluar pada saat depikasi, tapi seterlah depikasi selesai, tonjolan tersebut dapat masuk dengan sendirinya.
            *    Derajat III
Keadaan dimana varises yang keluar tidak dapat masuk lagi dengan sendirinya tetapi harus di dorong.
            *    Derajat IV
Suatu saat ada timbul keaadan akut dimana varises yang keluar pada saat defikasi tidak dapat di masukan lagi. Biasanya pada derajat ini timbul trombus yang di ikuti infeksidan kadang kadang timbul perlingkaran anus, sering di sebut dengan Hemoral Inkaresata karena seakan - akan ada yang menyempit hemoriod yang keluar itu, padahal pendapat ini salah karena muskulus spingter ani eksternus mempunyai tonus yang tidak berbeda banyak pada saat membuka dan menutup. Tapi bila benar terjadi. Inkaserata maka setelah beberapa saat akan timbul nekrosis tapi tidak demikiaan halnya. Lebih tepat bila di sebut dengan perolaps hemoroid.

HEMOROID EKSTERNA
Hemoroid eksrterna jarang sekali berdiri sendiri, biasanya perluasan hemoroid interna.
Tapi hemoroid eksterna dapat di klasifikasikan menjadi 2 yaitu :
            1.     Akut
Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya adalah hematom, walaupun disebut sebagai trombus eksterna akut.
   Tanda dan gejala yang sering timbul adalah:
            *    Sering rasa sakit dan nyeri
            *    Rasa gatal pada daerah hemorid
Kedua tanda dan gejala tersebut disebabkan karena ujung – ujung saraf pada kulit merupakan reseptor rasa sakit.
            2.  Kronik
Hemoroid eksterna kronik atau “Skin Tag” terdiri atas satu lipatan atau lebih dari kulit anus yang berupa jaringan penyambung dan sedikit pembuluh darah.

2.5      Akibat
·         Terjadinya perdarahan
Pada derajat satu darah kelur menetes dan memancar.
·         Terjadi trombosis
Karena hemoroid keluar sehinga lama - lama darah akan membeku dan terjadi trombosis.
·         Peradangan
Kalau terjadi lecet karena tekanan vena hemoroid dapat terjadi infeksi dan meradang karenadisana banyak kotoran yang ada kuman – kumannya.

2.6    Penanganan
Penanganan hemoroid dengan diet tinggi serat
Tujuan diet serat tinggi adalah untuk memberi makanan sesuai dengan kebutuhan gizi sehingga dapat  merangsang peristaltik usus agar defekasi dapat berjalan normal sehingga dapat mencegah obstipasi, hemoroid, dan diverticulosis.
Syarat-syarat diet tinggi serat
·         Energi cukup sesuai dengan umur , gender, dan aktivitas.
·         Karbohidrat
·         Protein
·         Lemak cukup
·         Vitamin dan mineral tinggi terutama vitamin B untuk membantu memperkuat saluran otot cerna.
·         Cairan tinggi untuk memperlancar defekasi, pemberian minum sebelum makan akan membantu merangsang peristaltic usus.
Serat tinggi yang diberikan sebaiknya berasal dari :
·         Serat larut air yang berasal dari beras tumbuk, beras merah, roti gandum, kacang-kacangan, sayuran dan buah.
·         Kacang-kacangan yang dianjurkan : kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijau, serta olahan kacang seperti tahu dan tempe.
·         Beberapa sayuran yang tinggi serat diantaranya adalah daun singkong, daun papaya, daun kacang panjang, brokoli, jagung muda, oyong, pare, buncis, kacang panjang, dan ketimun.
·         Buah-buahan yang berserat tinggi diantaranya adalah jeruk, nanas, manga, salak, pisang, pepaya, sirsak, serta buah yang dimakan dengan kulitnya seperti apel, anggur, belimbing, dan jambu biji.
Direkomendasikan untuk mengkonsumsi serat tidak larut sebanyak 25-30 gram per hari.
2.7 Contoh kasus
Dalam kasus ini, pasien didiagnosa menderita Hemoroid
 Identitas Pasien
Nama Pasien              : Tn. Toni
Jenis kelamin              : Laki - laki
Usia                             : 52 tahun
BB                               : 67 Kg
TB                               : 167
Pendidikan                  : SMA
Pekerjaan                    : Wiraswasta

Data penunjang lain
.
a.    Riwayat Penyakit Sekarang
Px MRS dengan Hemoroid berat, BAB mengeluarkan darah
b.    Riwayat Penyakit  Dahulu
      Sering Konstipasi dan hemoroid

1.    Tentukan status gizinya
2. .  Hitunglah
    a. Kebutuhan energi, protein, lemak, dan karbohidrat
   b. Jelaskan penatalaksaan Dietnya (Syarat, Tujuan, Prinsip dan contoh menu dan bentuk makanannya)

jawaban.

IMT = BERAT badan (Kg)
            TinggiBadan (meter)²
            =67
            (1,67)²
           =40,119760

Status Gizinya

Ø  Rumus: BEE =66,5+13,5(wt)+5(ht-6,78) (A)
                            =66,5 + 13,5 (67) +5(167-6,78) (52)
                            =1453,44
Ø  Aktivitas: karena riwayat penyakit Tn.T saat ini adalah hemoroid berat dan mengakibatkan Tn.T harus MRS maka aktivitas yg dilakukan Tn.T adalah Badrais (1,2).
Ø  Sakit : 1453,44 x 1,2 =1744,128 Kalori
Ø  Protein: 1744,128 x 15% =261,6192 Kalori
P= 261,6192 : 4 =65,4048 g
Ø  Lemak: 1744,128 x 25% =436,032 Kalori
L=436,032 : 9 = 48,448 g

Ø  Karbohidrat: 1744,128 x 60% =1046,476 Kalori
       K= 1046,476 : 4 = 261,619 g

Penata laksanaan Diet nya :

o   Syarat diet nya
1.Energi cukup
2.Protein cukup yaitu 10-15%
3.Lemak sedang yaitu 10-25%
4.Karbohidrat cukup
5.Menghindari makanan berserat tinggi (Asupan serat maksimal 8g/hari)
6.Menghindari susu, produk susu, dan daging berserat kasar sesuai dengan toleransi perorangan.
7. Menghindari  makanan yang terlalu berlemak, terlalu manis, terlalu asam, dan berbumbu tajam
8. Makanan dimasak hingga lunak
9. Porsi kecil tapi sering
10. Jangka waktu lama ditambah suplemen vitamin dan mineral.



o   Tujuan Diet yaitu
Untuk memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi yang sedikit mungkin meninggalkan sisa sehingga dapat membatasi volume feses dan tidak merangsang saluran cerna.

o   Prinsip Dietnya
Diberikan kepada pasien dengan :
  •  Diare berat
  •  Peradangan saluran cerna akut
  •  Divertikulitis akut
  •  Obstipasi spastik
  • Penyumbatan sebagian saluran cerna
  • Hemoroid berat
  • Pra dan Pasca bedah saluran cerna

o   Contoh menu
  •             PAGI                          SIANG                                  
  • Roti bakar                               Nasi Tim         
  • Orak arik telur             semur daging giling+tahu
  • susu                             Tumis labu siam
                                                Pepaya
                        MALAM
                        Nasi tim
                        Sup bola2 ayam
                        Tim tahu
                        setup wortel & buah pepaya



o   Bentuk makanannya

  • Diet ini rendah energi dan sebagian zat gizi
  • Makanan diberikan dalam bentuk disaring atau diblender
  • Makanan ini menghindari makanan berserat tinggi dan sedang, bumbu yang tajam, susu, daging berserat kasar/liat
  • Membatasi penggunaan gula dan lemak
  • Kandungan serat maksimal 4 gram
Tn.T karena riwayat penyakit nya sekarang adalah Hemoroid Berad dan jika BAB mengeluarkan darah jadi Tn.T ini harus dikasi diet Rendah Sisa.

Pengertian Diet Rendah sisa.

Ø  Diet Rendah Sisa adalah makanan yang terdiri terdiri  dari bahan makanan rendah serat dan hanya sedikit meninggalkan sisa.
Ø  Yang dimaksud dengan sisa adalah bagian2 makanan yang tidak diserap seperti yang terdapat dalam susu dan produk susu serta serat daging yang berserat kasar/liat.
Ø  Disamping itu makanan lain yang merangsang  saluran cerna harus dibatasi.

Diet Rendah Sisa ini ada dua macam yaitu :

1. Diet Rendah Sisa I
2. Diet Rendah Sisa II

Rata’’ nilai diet Rendah Sisa 1 adalah:

•         Energi  : 1441 kkal
•         Protein :     40 g
•         Lemak :     58 g
•         KH                  :   188 g
•         Kalsium           :   100 mg
•         Besi     :     6,5 mg
•         Vit C   :   118 mg
•         Serat    :    1,5 mg
Rata’’ nilai diet Rendah Sisa 2 adalah:

•         Energi  : 1750 kkal
•         Protein :     61 g
•         Lemak :     60 g
•         KH                  :   281 g
•         Kalsium           :   800 mg
•         Besi     :     16 mg
•         Vit C   :   117 mg
•         Serat    :    6,3 mg

Tn.T nilai Kebutuhan gizi nya saat ini adalah :

v  Energi : 1744,128 kkal
v  Protein : 65,4048 g
v  Karbohidrat : 261,619 g
v  Lemak : 48,448 g

Karena  Tn.T Nilai Kebutuhan Gizi nya Mendekati dengan Nilai Diet Rendah Sisa 2 , maka Tn.T diberi Diet Rendah Sisa 2.
*      Diet rendah sisa II merupakan peralihan dari diet rendah sisa I ke makanan biasa
*      Diberikan bila penyakit mulai membaik atau bila penyakit bersifat kronis
*      Makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak
*      Makanan berserat sedang diperbolehkan dalam jumlah terbatas
*      Susu maksimal 2 gelas sehari
*      Lemak dan gula diberikan dlm bentuk mudah cerna
*      Kandungan serat maksimal 4-8 gram



 Bahan makanan yang di anjurkan Untuk Tn.T adalah :
v  Bubur/nasi tim, roti bakar, kentang rebus, mi, bihun direbus, krakers, tepung2an dipuding/dibubur
v  Daging empuk, hati ayam, ikan direbus,ditumis,diungkep,dipanggang, telur rebus/ceplok air.
v  Tahu, tempe ditim dan direbus, ditumis, susu kedelai
v  Sayuran berserat rendah : kacang panjang, buncis,bayam labu siam,wortel rebus, tomat masak.
v  Buah2an : Semua sari buah, Buah segar yg matang (tanpa kulit dan biji) dan tidak menimbulkan gas, seperti : Pepaya, pisang, jeruk, Avokad dan Nanas.
v  Lemak : Margarin, mentega dan minyak dlm jumlah terbatas untuk menumis, mengoles dan setup.
v  Minuman : teh encer, kopi, sirup
v  Bumbu  : Garam, gula, cuka, salam, laos, kunyit, kunci, dlm jumlah terbatas.

Bahan Makanan yang tidak Di anjurkan Untuk Tn.T adalah:

•         Buah2an : Semua sari buah, Buah segar yg matang (tanpa kulit dan biji) dan tidak menimbulkan gas, seperti : Pepaya, pisang, jeruk, Avokad dan Nanas.
•         Lemak : Margarin, mentega dan minyak dlm jumlah terbatas untuk menumis, mengoles dan setup.
•         Minuman : teh encer, kopi, sirup
•         Bumbu  : Garam, gula, cuka, salam, laos, kunyit, kunci, dlm jumlah terbatas.
•         Buah-buahan :.Buah yang dimakan dengan kulit, seperti apel, jambu biji, dan pir serta jeruk yang dimakan dg kulit ari. Buah yang menimbulkan gas seperti durian, dan nangka
•         Lemak : Minyak untuk menggoreng, lemak hewani, kelapa dan santan.
•         Miuman : Kopi, teh kental, minuman yg mengandung soda dan alkohol.
•         Bumbu : Cabe dan merica.

Contoh Menu Tn.T adalah:

PAGI                          SIANG                                  
Roti bakar                               Nasi Tim         
Orak arik telur             semur daging giling+tahu
susu                             Tumis labu siam
                                                Pepaya
                        MALAM
                        Nasi tim
                        Sup bola2 ayam
                        Tim tahu
                        setup wortel & buah pepaya



























BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
        Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
·         Hemoroid adalah adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal. Hemorroid adalah pelebaran pembuluh darah/flexus vena. Hemoroid berasal dari kata Yunani , haemorrhoides yang berarti darah yang mengalir (haem = blood, rhoos = flowing). Istilah piles berasal dari kata latin, pila yang berarti pil atau bola. Jadi memang tepat kedua istilah tersebut, karena selain ada perdarahan, penyakit ini ditandai dengan adanya / keluarnya benjolan .
·         Faktor Resiko hemoroid :
Keturunan, anatomic, pekerjaan, umur, endokrin, mekanis, fisiologis, radang.
·         Pada dasarnya hemoroid di bagi menjadi dua klasipikasi, yaitu :
      1. Hemoroid interna à merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media
            2. Hemoroid eksterna à merupakan varises vena hemoroidalis inferior.
·         Hemoriud interna terbagi menjadi 4 derajat :
            * Derajat I
            * Derajat II
            * Derajat III
            * Derajat IV

·         Hemoroid eksterna dapat di klasifikasikan menjadi 2 yaitu :
            1. Akut
            2. Kronik
·         Penanganan Hemoroid bias dilakukan dengan diet tinggi serat.
v  Dari contoh kasus di atas Nilai Gizi Tn.T harus di berikan Diet Rendah Serat 2.

3.2    Saran
         Perlu penyuluhan yang intensif tentang penyakit, proses penyakit dan pengobatannya pada penderita hemoroid. Menginformasikan tentang pencegahan-pencegahan terjadinya hemoroid dengan cara :
1. Makan makanan tinggi serat, vitamin K, dan vitamin B12.
2. Sarankan untuk tidak banyak duduk atau kegiatan yang menenkan daerah bokong.
3. Sarankan untuk tidak terlalu kuat saat mengedan karena dapat menambah besar hemoroid.
4. Sarankan agar mengurangi makan makanan pedas yang dapat mengiritasi hemoroid.
5. Sarankan untuk melakukan hemoroidektomi apabila stadium hemoroid telah mencapai derajat III hemoroid interna untuk mencegah terjadinya infeksi.




 DFTAR PUSTAKA

Arkanda, Sumitro. 1989. Ringkasan Ilmu Bedah. Jakarta: PT. Bina Aksara.
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 2. Jakarta: EGC.
Djuhari,Widjajakusumah. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Doenges (2001). Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC
Jusi, H. D. 1991. Dasar-Dasar Ilmu Bedah Vaskuler. Jakarta: Balai Penerbit.
Lauralee,Sherwood. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC
Parakrama,Chandrasoma. 2006. Ringkasan Patofisiologi Anatomi Edisi 2. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia Anderson. 1984. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta: EGC.
Robbins, Stanley L. 1989. Buku Saku Dasar Patologi Penyakit. Jakarta: EGC
Schrock, Theodore R. 1991. Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Sjamsuhidajat, R. Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.
Diposkan oleh Candra Wijayanti di 23.19


Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 rizka_hp blog All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates